Tentu, ini dia kisah "Janji yang Tertulis di Langit Kelam": *** **Janji yang Tertulis di Langit Kelam** Malam itu pekat. Lebih pekat dari tinta kaligrafi yang digunakan para biksu di kuil terpencil. Salju turun tanpa ampun, menutupi segalanya dengan selimut putih yang *menyesatkan*, seolah menyembunyikan dosa-dosa yang telah lama dipendam. Di tengah hamparan putih itu, darah menyembul, merah membara seperti amarah yang mendidih. Xiao Mei berdiri di ambang kuil yang sudah lama ditinggalkan. Gaun sutranya yang berwarna rembulan kontras dengan noda merah yang mengotori ujungnya. Matanya, sehitam obsidian, memancarkan duka yang mendalam, namun terselubung oleh tekad yang membara. Di tangannya tergenggam erat belati perak, permata safir di gagangnya memantulkan cahaya remang dari lentera minyak yang berderak. Di hadapannya, berlututlah Li Wei. Punggungnya bergetar, bukan karena dingin, tapi karena ketakutan yang meremukkan tulang. Wajahnya, yang dulu tampan dan penuh pesona, kini pucat pasi, dihiasi luka memar dan goresan. Dulu, Xiao Mei memuja wajah itu, mencintainya dengan segenap jiwa. Sekarang, hanya kebencian yang tersisa, mengakar dalam seperti parasit mematikan. "Ingat malam itu, Li Wei?" bisik Xiao Mei, suaranya bagai desiran angin dingin yang menusuk tulang. "Malam saat kau bersumpah akan mencintaiku selamanya, di bawah rembulan yang sama?" Li Wei tidak menjawab. Ia hanya menunduk semakin dalam, napasnya tersengal-sengal. Bau dupa yang terbakar memenuhi udara, bercampur dengan aroma darah dan salju, menciptakan aroma *memabukkan* yang membawa kenangan pahit. FLASHBACK: *Malam itu, di kuil yang sama, di bawah rembulan yang serupa...* Xiao Mei dan Li Wei muda, terikat dalam janji suci. Di atas altar yang penuh abu dupa, mereka berjanji untuk saling mencintai hingga akhir hayat. Li Wei menyematkan jepit rambut giok ke rambut Xiao Mei, simbol cinta mereka yang abadi. Tapi keabadian itu rapuh, semudah kaca yang pecah berkeping-keping. END FLASHBACK "Janji..." gumam Li Wei akhirnya, suaranya serak. "Janji itu... harus dilupakan." "Dilupakan?" Xiao Mei tertawa getir. Air matanya membeku di pipinya. "Bagaimana bisa aku melupakan malam saat kau menikam ayahku dari belakang? Bagaimana bisa aku melupakan pengkhianatanmu, Li Wei? Bagaimana bisa aku melupakan **SEMUA KEBOHONGANMU?!**" Rahasia lama akhirnya terbongkar. Li Wei adalah putra dari musuh bebuyutan keluarga Xiao, yang membunuh ayah Xiao Mei demi merebut kekuasaan. Cinta mereka adalah bidak dalam permainan politik yang kotor. Li Wei berusaha meraih tangan Xiao Mei, memohon ampun. "Xiao Mei, percayalah, aku tidak punya pilihan! Aku dipaksa melakukan ini!" Xiao Mei menepis tangannya dengan kasar. "Pilihan? Kau selalu punya pilihan, Li Wei. Kau memilih kekuasaan daripada cinta. Kau memilih darah daripada janji." Dan saat itulah, *dendam* mengambil alih. Xiao Mei mengangkat belatinya tinggi-tinggi. Tidak ada amarah dalam gerakannya, hanya ketenangan yang mematikan. Ia menusuk jantung Li Wei dengan sekali gerakan. Li Wei jatuh tersungkur di atas salju, darahnya mewarnai putihnya salju menjadi merah crimson yang menyedihkan. Matanya menatap kosong ke langit kelam, di mana janji mereka tertulis, abadi dalam pengkhianatan. Xiao Mei berdiri di sana, di atas jasad kekasihnya, di bawah langit kelam yang menyaksikan semuanya. Balas dendamnya telah terbayar. Hatinya yang dulu penuh cinta, kini telah membeku menjadi es. Ia melemparkan jepit rambut giok ke atas abu dupa. Simbol cinta mereka hancur berkeping-keping, bersamaan dengan harapan yang pernah ia miliki. *Kini, di malam yang sama, di kuil yang serupa...* Xiao Mei berbalik, meninggalkan kuil yang sunyi. Langkahnya ringan, seolah beban berat telah terangkat dari pundaknya. Ia tahu, ia akan terus dihantui oleh kenangan malam ini. Tapi ia tidak menyesal. Kebencian telah membawanya ke sini, dan dendam telah membebaskannya. Di bawah langit kelam, di tengah hamparan salju yang berdarah, hanya satu kalimat yang terukir dalam diam: *Kebahagiaan akan datang, ketika yang terakhir mati.*
You Might Also Like: 133 Vibrant Tennis Club Logo With

Share on Facebook