Oke, siap! Mari kita buat dracin absurd dengan judul 'Pedang yang Menyala Saat Mereka Bertemu': **Pedang yang Menyala Saat Mereka Bertemu** Langit retak seperti _emoji_ patah hati, senja abadi berwarna filter Instagram yang gagal. Lin, dari tahun 2347, menatap layar holografisnya yang berkerut. Sinyal dari masa lalu kembali hilang. "Sial," desisnya, bibirnya yang dicat *chrome* bergetar. Dia merindukan... sentuhan. Sentuhan dari masa lalu yang tak mungkin diraih. Di tahun 1789, Jiang, sang pendekar dari dinasti yang terlupakan, merasakan getaran aneh pada pedangnya. Bukan kilatan pertempuran, bukan desiran angin. Tapi semacam... panggilan. Pedangnya, pusaka keluarga, *menyalakan* cahaya aneh setiap kali dia menatap bulan sabit yang terbelah. Cahaya itu seperti bisikan, membawanya pada sosok asing dalam mimpi. Lin, di dunia masa depan yang hancur karena polusi digital, hanya bisa berkomunikasi dengan Jiang melalui _glitch_ waktu. Percakapan mereka adalah potongan kode yang rusak, puisi yang lahir dari notifikasi tengah malam: *Lin:* "Apakah kau melihat bintang?" *Jiang:* "Hanya asap dan janji palsu." *Lin:* "Di sini, bintang-bintang mati... digantikan iklan." *Jiang:* "Di sini... keadilan mati, digantikan keserakahan." Mereka menemukan resonansi dalam kesunyian mereka. Lin mengirimkan rekaman suara burung-burung (artefak langka di masanya), dan Jiang mengirimkan aroma tanah basah setelah hujan (yang hampir punah di masa Lin). Cinta tumbuh seperti jamur di reruntuhan, aneh dan indah. Suatu hari, sinyal Lin menghilang. Jiang merasakan pedangnya bergetar lebih kuat dari sebelumnya. Dia berlari ke puncak gunung, pedangnya menyala terang, membelah kabut. Di sana, di tengah kabut, dia melihat... bukan Lin, bukan sosok holografis. Tapi refleksi dirinya sendiri, *berkerut*, *lapuk*, *berkarat*. Suara merdu terdengar di benaknya. Bukan suara Lin. Suara yang lebih tua. Lebih dalam. "Cinta kalian bukanlah cinta baru, Jiang. Ini adalah *gema* dari kami. Kami yang selalu mencari, selalu merindukan. Kami yang terperangkap dalam siklus waktu yang tak berujung. Kami... adalah kamu. Dan Lin... hanyalah pecahan dari dirimu yang terlempar ke masa depan." Pedang Jiang redup. Kabut menelan dirinya. Dimensi runtuh. Lin, di masa depan, menemukan pesan terakhir di layarnya yang mati. Bukan dari Jiang. Tapi dari entitas tak dikenal: " *PERINGATAN:* **Data terkontaminasi. Sistem memasuki mode _fail-safe_. Akhiri transmisi. Mulai ulang kehidupan.** " Satu kalimat menggantung yang terasa seperti pesan terakhir sebelum dunia padam: *Apakah kau... ingat aku...?*
You Might Also Like: Supplier Kosmetik Tangan Pertama

Share on Facebook