**Cinta yang Lahir di Zaman yang Salah** Hujan kota Seoul malam itu, sama seperti malam-malam sebelumnya, membasahi aspal dan kenangan. Notifikasi LINE berkedip lirih di layar ponsel, mengingatkannya pada obrolan terakhir dengan *dia*. Sebuah sisa percakapan yang mengantung, pesan yang tak pernah terkirim. Seolah jemari tak sanggup menekan tombol "kirim," menahan semua perasaan di ambang pintu. Aroma kopi menyelinap dari cangkir yang sudah dingin, aromanya bercampur dengan **aroma penyesalan**. Sejak kepergiannya, kafe ini terasa sunyi, hampa. Dulu, meja di sudut dekat jendela itu adalah saksi bisu tawa, bisikan, dan janji-janji yang kini terasa seperti debu. Kim Hana, nama gadis itu, hanyalah bayangan yang hidup di antara *story* Instagram dan unggahan TikTok. Ia adalah perempuan modern, terperangkap dalam labirin digital, namun hatinya terikat pada kenangan yang *ANALOG*. Ia mengingatnya dengan jelas, wajahnya yang teduh di bawah lampu jalan, senyumnya yang mampu meruntuhkan pertahanan hatinya dalam hitungan detik. Hubungan mereka, singkat dan membara, adalah *anomali* di era serba instan ini. Pertemuan tak sengaja di sebuah galeri seni, obrolan panjang tentang mimpi dan ketakutan, dan sentuhan tangan yang terasa seperti sengatan listrik. Semuanya terasa nyata, hingga kepergiannya yang tiba-tiba. Tanpa penjelasan. Tanpa pamit. Hanya kekosongan yang menganga. Hana berusaha mencari tahu. Ia mengorek informasi dari teman-teman, menyelami *timeline* media sosialnya, mencari petunjuk di antara ribuan foto dan status. Namun, semua usahanya sia-sia. Pria itu menghilang, seolah ditelan bumi. Bertahun-tahun berlalu, luka itu perlahan mengering, namun bekasnya masih terasa perih. Hana belajar untuk menerima, untuk melupakan. Ia fokus pada kariernya, mengejar mimpinya, berusaha menutupi kehampaan dengan pencapaian. Hingga suatu hari, sebuah notifikasi email mengejutkannya. Sebuah undangan ke pameran tunggal seorang fotografer. Nama fotografer itu: Lee Jaehyun. Pria itu. Jantung Hana berdebar kencang. Rasa penasaran, amarah, dan kerinduan bercampur menjadi satu. Ia memutuskan untuk datang. Di galeri itu, foto-foto Jaehyun terpampang megah. Potret-potret kota Seoul yang familiar, namun ditangkap dari sudut pandang yang *berbeda*. Kemudian, matanya terpaku pada sebuah foto. Foto seorang gadis yang tertawa di bawah hujan. *Dirinya*. Di bawah foto itu, tertulis sebuah keterangan: "Cinta yang Terlarang." Ia mencari Jaehyun. Akhirnya, ia menemukannya. Pria itu berdiri di sudut ruangan, menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kenapa?" Hana bertanya, suaranya bergetar. "Kenapa kau pergi tanpa penjelasan?" Jaehyun terdiam sejenak. "Aku sakit," jawabnya lirih. "Sakit parah. Aku tidak ingin membebani dirimu." Air mata menetes di pipi Hana. Ia merasa bodoh, marah, dan patah hati. Selama ini, ia menyalahkan dirinya sendiri, mengira dirinya tidak cukup baik. Ternyata, ada rahasia yang lebih besar di balik kepergiannya. Ia menatap Jaehyun, menyadari bahwa pria itu tidak lagi sama. Wajahnya pucat, tubuhnya kurus. *Penyakit itu telah merenggut sebagian besar hidupnya*. Kemudian, Hana melakukan sesuatu yang tak terduga. Ia mendekati Jaehyun, meraih tangannya, dan tersenyum. Sebuah senyum yang tulus, namun menyimpan *kekuatan* yang luar biasa. "Terima kasih," bisiknya. "Terima kasih telah mencintaiku dengan cara yang kau tahu." Ia melepaskan tangannya dan berbalik. Meninggalkan Jaehyun yang terpaku di tempatnya. Di pintu keluar, Hana mengeluarkan ponselnya. Ia membuka aplikasi LINE dan mengetik sebuah pesan untuk Jaehyun. *“Kau boleh pergi, tapi kenangan ini... Akan aku jadikan karya.* ***SELAMANYA***.***"*** Kemudian, ia menekan tombol "kirim." Dan tidak ada balasan.
You Might Also Like: Ini Baru Cerita Janji Yang Tertulis Di

Share on Facebook