**Janji yang Hilang Dalam Cahaya** Kabut sutra mewarnai Danau Bulan, sebuah lukisan bernapas yang selalu mengulang pagi. Di sanalah, di antara bayangan dedaunan *maple* yang berguguran seperti air mata waktu, aku pertama kali melihatnya. Bukan dalam nyata, kurasa. Lebih seperti bisikan angin yang menjelma wujud. Rambutnya, sungai malam yang dialiri bintang-bintang kuno. Matanya, dua buah *permata amethys* yang menyimpan rahasia taman-taman terlarang. Senyumnya, serpihan fajar yang menari di atas riak danau. Dia adalah ilusi, *bukan?* Sebuah mimpi yang terlalu indah untuk disentuh. Kami bertemu di antara halaman-halaman buku yang terlupakan, di dalam dimensi waktu yang tidak tunduk pada hukum bumi. Setiap pertemuan adalah tarian hening, bahasa tanpa kata yang dilukis dengan *cahaya bulan* dan *bayangan bambu*. "Aku menunggumu," bisiknya suatu senja, suaranya selembut *hembusan napas naga*. "Di persimpangan mimpi dan kenyataan, di mana waktu berhenti bernapas." Kami berjanji. Janji yang terukir di atas kelopak bunga *sakura* yang jatuh, janji yang disaksikan oleh burung-burung hantu yang membisu, janji yang terbungkus dalam keabadian yang rapuh. Namun, mimpi selalu berakhir. Pagi tiba dengan kejamnya, menghapus jejak kakinya di pasir waktu. Aku terjaga dengan *luka* di hati dan sepotong *memori* yang terasa seperti pecahan kaca. Aku mencari dia. Di setiap sudut Danau Bulan, di setiap halaman buku yang berdebu, di setiap sela waktu yang tersisa. Tapi dia hilang, lenyap ditelan kabut pagi, menjadi hantu di dalam ingatanku. Lalu, aku menemukan lukisan. Sebuah gulungan sutra tua yang tersembunyi di loteng berdebu. Di sana, terpampang wajahnya. Wajah yang sama persis. Namun, di bawah lukisan, tertulis sebuah nama: Putri Lian, yang meninggal ratusan tahun lalu karena patah hati. *DIA NYATA.* Air mata mengalir, bukan karena kesedihan, tapi karena *pengungkapan*. Cinta kami tidak pernah ada, tapi cinta kami *PERNAH ADA*. Aku hanyalah reinkarnasi dari hati yang patah, terperangkap dalam *gema cinta* yang melampaui waktu. Dan di saat itulah, aku mendengar bisikan dari masa lalu: "Cintailah aku, meski hanya dalam mimpi…"
You Might Also Like: Hello Explorers Youve Just Found Corner

Share on Facebook