Baiklah, ini dia kisah dracin pendek yang kamu minta: **Kau Datang di Musim Gugur, Tapi Meninggalkan Musim Dingin di Hatiku** Aroma osmanthus memenuhi udara, manis menusuk saat angin musim gugur menari di antara dedaunan emas. Di tengah taman terpencil Istana Qingyun, seorang wanita muda bernama Lin Mei, berdiri termenung. Matanya, sekelam obsidian, memandang hamparan warna yang berubah. Ia merasa... *asing*. Seolah ada kepingan memori yang hilang, berputar-putar di benaknya seperti daun yang jatuh. "Nona Lin Mei, waktunya minum obat," suara pelayan membuyarkan lamunannya. Ia menelan cairan pahit itu, merasakan getaran aneh. Sejak kecelakaan tiga bulan lalu, ia sering merasakan *deja vu* yang mengganggu. Mimpi-mimpi aneh tentang istana megah, intrik berdarah, dan... pengkhianatan. Ia bekerja sebagai guru kaligrafi di istana, sebuah pekerjaan sederhana yang disukainya. Namun, mimpi-mimpinya semakin intens. Ia melihat dirinya, bukan sebagai Lin Mei, tetapi sebagai Putri Xian Yun, pewaris tahta yang dihormati dan... dicintai. Lalu, di mimpinya, bayangan seorang pria muncul. Pangeran Rui, sepupunya, dengan senyum manis yang ternyata menyimpan racun. Ia ingat janji setia, bisikan cinta, dan kemudian... pisau yang menusuk punggungnya. Ia dibunuh untuk merebut tahta. Kepingan-kepingan ingatan itu terasa begitu nyata. Kemarahannya bergejolak. Pangeran Rui... di kehidupan ini, ia adalah Jenderal Zhao, seorang perwira muda yang sedang naik daun, kekasih Lin Mei. Jenderal Zhao tampan dan berwibawa, mempesona semua wanita di sekitarnya. Ia melamarnya dengan seuntai kalung giok yang *familiar*. Kalung yang sama yang dikenakan Putri Xian Yun sebelum kematiannya. Lin Mei menerima lamarannya. Ia tersenyum manis, menyembunyikan badai di dalam hatinya. Pernikahan mereka dilangsungkan dengan meriah. Di malam pertama, saat Jenderal Zhao memandanginya dengan penuh cinta, Lin Mei membisikkan sesuatu yang hanya bisa didengar angin: "Kau tahu, Jenderal, takdir punya cara lucu untuk mempertemukan kita kembali... *bukan begitu*?" Zhao tertegun. Ia melihat *kilatan* di mata Lin Mei, kilatan yang tak pernah dilihatnya sebelumnya. Hari-hari berikutnya, Lin Mei diam-diam mulai melakukan sesuatu. Ia menggunakan pengaruhnya di istana untuk mendorong karir Jenderal Zhao. Ia memastikan ia mendapat promosi, tugas penting, pujian dari Kaisar. Dan kemudian, ia memberikan informasi PALSU kepada jenderal, informasi yang mengarah pada kekalahan yang memalukan di medan perang. Jenderal Zhao, yang dulunya dielu-elukan, kini menjadi bahan cemoohan. Kekuasaannya runtuh. Lin Mei menatapnya dengan dingin. Ia tidak menyakitinya secara fisik. Ia hanya menghancurkan *kepercayaannya*, *reputasinya*, *ambisinya*. Balas dendam yang manis. Saat Jenderal Zhao dibuang dari istana, kehilangan segalanya, Lin Mei berdiri di balkon, menyaksikan kepergiannya. Ia tidak merasakan kepuasan. Hanya kehampaan. Musim gugur telah berlalu, dan musim dingin mencengkeram hatinya. Ia berbalik dan melanjutkan hidupnya, meninggalkan masa lalu yang kelam. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia tahu... *Pengadilan ini belum selesai, dan sampai saat itu tiba, kita akan terus bertemu dalam mimpi-mimpi ini!*
You Might Also Like: 0895403292432 Distributor Skincare

Share on Facebook