Oke, ini dia kisah dracin pendek berjudul 'Kau Membawakanku Bunga Liar, Padahal Aku Punya Taman Terindah', dengan sentuhan misteri dan akhir yang mengejutkan: **Kau Membawakanku Bunga Liar, Padahal Aku Punya Taman Terindah** Kabut menggantung rendah di Pegunungan Cangwu, menyelimuti Puncak Bulan Sabit dalam kerudung perak yang dingin. Sepuluh tahun berlalu sejak rumor kematian Pangeran Ketiga, Li Wei, mengguncang istana. Sepuluh tahun pula Lady Yue, tunangannya yang setia, menabur bunga krisan putih di makam kosongnya. Namun, malam itu, di lorong istana yang sunyi, Lady Yue merasakan hawa dingin yang berbeda. Langkah kaki lembut bergema di belakangnya. Ia berbalik, dan jantungnya berdebar kencang. Di sana, berdiri seorang pria. Wajahnya familiar, namun diliputi bayangan. Matanya, sekelam jurang, menatapnya dengan intensitas yang membuatnya merinding. "Li...Li Wei?" bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar. Pria itu tersenyum tipis, senyum yang tak pernah diingatnya. "Lady Yue. Sungguh pemandangan yang menenangkan melihatmu. Masih setia menanti kematianku?" "Di mana kau selama ini?" Lady Yue mencoba menguasai diri. "Semua orang mengira kau *mati*!" Li Wei mendekat, langkahnya ringan namun terasa mengancam. "Mati? Oh, aku hanya sedang mengembara. Mencari… _perspektif baru_." Ia mengeluarkan setangkai bunga liar berwarna ungu pucat dari balik jubahnya. "Aku membawakanmu ini. Kudapatkan di tepi jurang. Indah, bukan?" Lady Yue menatap bunga itu dengan jijik. "Kau membawakanku bunga liar, padahal aku punya taman terindah. Taman yang seharusnya menjadi milikmu, Li Wei." "Ah, taman. Ya, taman yang indah. Tapi, tahukah kau, Lady Yue, terkadang bunga liar lebih menarik. Mereka tumbuh di tempat yang sulit, _mereka bertahan_." Ketegangan di antara mereka semakin terasa. Lady Yue merasakan ada yang *salah*. Ada sesuatu yang tersembunyi di balik tatapan Li Wei, sesuatu yang berbahaya. "Siapa yang bertanggung jawab atas kematian ayahmu?" Lady Yue bertanya langsung, memotong basa-basi. Pembunuhan ayah Li Wei adalah alasan yang menyulut pemberontakan yang konon menewaskan sang pangeran. Li Wei tertawa pelan, suara yang membuat bulu kuduk Lady Yue meremang. "Kau selalu pintar, Lady Yue. _Terlalu pintar_. Kau tahu, bukan? Kau tahu siapa yang menginginkan ayahku mati." Lady Yue menelan ludah. Ia tahu. Ia selalu tahu. Tapi, ia tidak pernah berani mengatakannya. "Kaulah dalangnya, bukan?" bisiknya. "Kau mengatur semuanya. Rumor, pemberontakan… bahkan kematianmu sendiri." Li Wei mengangguk, senyumnya menghilang. "Aku membutuhkan kekacauan. Aku membutuhkan tragedi. Dan yang terpenting, aku membutuhkan seseorang untuk dipersalahkan. Seseorang yang *cukup kuat* untuk menanggung beban itu." Ia mengulurkan tangannya, menyentuh pipi Lady Yue dengan lembut. "Dan kaulah orang itu, Lady Yue. Kaulah _korban yang sempurna_." Lady Yue menatap Li Wei, matanya dipenuhi kengerian dan rasa _TAK PERCAYA_. Selama ini, ia mengira dirinya adalah pion dalam permainan istana. Tapi, sekarang ia menyadari… dialah bidaknya. "Kau… kau *membiarkanku* menanggung semua ini?" Li Wei tersenyum dingin. "Aku memberimu peran yang penting, Lady Yue. Peran seorang Lady yang setia, yang berduka. Sungguh penampilan yang memukau. Tapi sekarang, tirai akan segera diturunkan." Dan saat itulah, Lady Yue menyadari kebenaran yang sebenarnya. Ketakutan dan rasa _BERSALAH_ selama ini hanya alat untuk mengendalikan dirinya. Dialah yang selama ini memegang kendali atas kehidupannya dan seluruh istana. Lady Yue tersenyum, senyum yang lebih dingin dari kabut Pegunungan Cangwu. "Kau salah, Li Wei. Kau tidak pernah memberiku peran apa pun. Aku yang menulis naskah ini, dan kau… hanyalah karakter pendukung." Dan saat Li Wei menyadari kekeliruannya, semua sudah terlambat. Lady Yue sudah lama merencanakan *kematiannya*. Kebenaran yang akan menghantuinya selamanya.
You Might Also Like: 0895403292432 Jual Skincare Aman Untuk

Share on Facebook