Baiklah, ini dia kisah dracin modern berjudul "Aku Mencintaimu dalam Sunyi, Karena Hanya Sunyi yang Bisa Memahami": **Senyap Aplikasi Biru** Hujan kota Jakarta membasahi kaca jendela apartemenku. Aroma kopi robusta yang baru diseduh tak mampu mengalahkan dingin yang merayapi tulang. Di layar ponsel, notifikasi pesan dari nomor tak dikenal itu berkedip seperti bintang jatuh. *Dia*? Mungkinkah? Lima tahun lalu, hidupku adalah _Dia_. Notifikasi chat tengah malam, janji bertemu di kedai kopi favorit, senyumnya yang mampu mengalahkan terik matahari Jakarta. Lalu, tiba-tiba, *sunyi*. Tanpa penjelasan. Tanpa pamit. Hanya sisa chat yang tak terkirim, memenuhi ruang penyimpanan ponselku seperti hantu kenangan. Aku mencoba melupakannya. Mencari kesibukan dalam pekerjaan sebagai *developer* aplikasi. Mimpi tentang kode dan algoritma seharusnya menggantikan mimpi tentang tawanya. Tapi, setiap kali ada bug yang sulit dipecahkan, aku teringat bagaimana dia selalu punya solusi, bahkan untuk masalah terpelik sekalipun. Misteri kepergiannya menghantuiku. Kenapa? Apa salahku? Aku menyelami *database* memoriku sendiri, mencari petunjuk yang mungkin terlewat. Tapi, yang kutemukan hanyalah potongan-potongan kebahagiaan yang terasa seperti pecahan kaca yang melukai. Kemudian, pesan dari nomor tak dikenal itu datang. Isinya singkat: "Maaf." *Maaf*? Setelah lima tahun? Aku mencoba menelepon. Tidak aktif. Aku mencoba mencari informasi di media sosial. Nihil. Dia lenyap seperti ditelan bumi. Namun, takdir, atau mungkin algoritma, punya caranya sendiri. Aku ditugaskan untuk mengembangkan sebuah aplikasi *charity* yang didedikasikan untuk membantu anak-anak dengan penyakit langka. Dan di balik proyek itu, aku menemukan namanya. Bukan sebagai pasien, tapi sebagai donatur anonim. Rahasia itu terkuak perlahan. Dia menderita penyakit yang memaksanya menjauh. Dia tidak ingin aku melihatnya lemah. Dia memilih *sunyi* agar aku bisa melupakannya. Amarah, kesedihan, dan kelegaan bercampur aduk. Aku ingin marah padanya karena menyembunyikan semuanya. Aku ingin menangis karena kehilangan kesempatan untuk berada di sisinya. Tapi, di atas segalanya, aku merindukannya. *Sangat*. Aku memutuskan untuk bertemu dengannya. Lokasi yang kuterima membawaku ke sebuah taman yang sepi, di pinggir kota. Di sana, di bawah pohon sakura yang tengah bermekaran, aku melihatnya. Dia duduk di kursi roda, wajahnya pucat, tapi senyumnya tetap sama. Aku tidak mengatakan apa pun. Aku hanya duduk di sampingnya, menggenggam tangannya. Dia menatapku, air mata mengalir di pipinya. "Aku tidak ingin kau melihatku seperti ini," bisiknya. "Aku mencintaimu," jawabku. "Dalam sunyi, dan dalam segala keadaannya." Dia tersenyum. Senyum yang tulus, tapi juga penuh kepedihan. Ini adalah balas dendam lembutku. Bukan dengan kata-kata kasar, bukan dengan amarah yang membara. Tapi dengan penerimaan, dengan cinta yang tak bersyarat. Aku tahu, waktu kami tidak banyak. Tapi, aku akan menghabiskan setiap detik bersamanya. Aku akan membuatnya bahagia, sebahagia yang dia buat untukku dulu. Sebelum pergi, aku meninggalkan sebuah pesan suara di ponselnya. Pesan yang tidak akan pernah dia lupakan. Pesan yang berisi semua perasaanku, semua kerinduanku, semua cintaku. Aku mematikan ponselku. Menatap langit Jakarta yang mulai memerah. Aku menarik napas dalam-dalam. Dan aku pergi, meninggalkan masa lalu di belakangku. **"Aku tahu kau akan bahagia, meski tanpaku. Karena aku... telah mencintai semua versi dirimu."**
You Might Also Like: Distributor Skincare Bisnis Rumahan
Share on Facebook