**Janji yang Menjadi Doa Terlarang** Hujan kota, seperti air mata yang tak pernah benar-benar jatuh, membasahi jendela apartemenku. Di layar ponsel, notifikasi dari *dia* tak kunjung muncul. Terakhir kali adalah tiga bulan lalu, sebuah emoji hati yang diikuti tiga titik. Seolah-olah ada kalimat yang *gantung*, tak terucap, seperti aroma kopi yang menguar namun tak pernah benar-benar kuteguk. Kenangan tentang Jian, pemilik senyum yang bisa meluluhkan beton, menghantuiku setiap malam. Kami bertemu di aplikasi kencan, klise memang. Pertemuan pertama, di sebuah kedai kopi kecil di sudut kota, terasa seperti adegan film romantis murahan. Namun, senyumnya, *ya Tuhan*, senyumnya terasa begitu nyata, begitu *hangat*. Chat-chat manis, janji-janji yang diukir di udara, semua tersimpan rapi di ponselku. Seperti museum kecil yang memajang sisa-sisa kebahagiaan yang kini terasa begitu *jauh*. Janji untuk mendaki gunung bersama, menonton konser band kesukaannya, dan menua bersama di sebuah rumah kecil di tepi pantai. Janji-janji itu kini berubah menjadi doa terlarang, bisikan pilu yang hanya berani kupanjatkan dalam hati. Kehilangan Jian terasa seperti kehilangan sebagian diriku. Ada kekosongan yang menganga, lubang hitam yang menyedot semua warna dalam hidupku. Aku mencoba mencari tahu apa yang terjadi. Teman-temannya bungkam, keluarganya menghindar. Seolah-olah Jian menghilang ditelan bumi, tanpa jejak. Semakin aku mencari, semakin aku menemukan misteri. Ada rahasia yang disembunyikan di balik senyum manisnya, di balik janji-janji manisnya. Aku menemukan foto-foto dirinya dengan seorang wanita lain, foto-foto yang *berbeda*, foto-foto yang penuh *keintiman*. Air mataku akhirnya jatuh, membasahi layar ponsel yang menayangkan bukti pengkhianatan itu. Semuanya menjadi jelas. Jian bukan malaikat yang selama ini kupuja. Ia adalah manusia biasa, dengan segala kelemahan dan rahasianya. Janji-janji itu hanyalah ilusi, fatamorgana di tengah gurun kesepian. Waktunya untuk *BALAS DENDAM*, bukan dengan amarah yang membabi buta, tapi dengan keanggunan seorang wanita yang terluka. Aku menulis pesan terakhir: "Aku tahu semuanya, Jian. Selamat tinggal." Aku tidak menghapusnya, hanya membiarkannya mengambang di ruang obrolan kami, sebagai pengingat bahwa aku pernah mencintainya, dan ia telah menyia-nyiakannya. Kemudian, aku pergi. Aku mengubah nomor ponselku, pindah apartemen, dan mulai menata hidupku yang baru. Aku tidak akan membiarkan Jian menghantuiku lagi. Aku akan menjadi versi diriku yang lebih kuat, lebih mandiri, dan lebih *bahagia*. Beberapa bulan kemudian, aku menerima undangan pernikahan. Nama pengantin pria: Jian. Foto pengantin wanita: wanita yang ada di foto-foto itu. Aku tersenyum tipis. Balas dendamku terlalu lembut, terlalu halus, namun begitu menusuk. Di hari pernikahannya, aku mengirimkan sebuah karangan bunga Lily putih ke gereja. Kartu yang tersemat di sana hanya bertuliskan satu kata: *"Nikmatilah."* Aku tidak tahu apa yang terjadi setelah itu. Aku tidak peduli. Yang aku tahu, aku telah menutup babak kehidupanku bersamanya. Aku telah memaafkan diriku sendiri karena pernah begitu bodoh dan naif. Malam itu, aku berdiri di balkon apartemen baruku, menatap gemerlap lampu kota. Hujan sudah berhenti. Aroma kopi memenuhi udara. Aku merasa *ringan*, seperti burung yang lepas dari sangkar. Aku telah menemukan kedamaian, meskipun kosong. Namun, dalam kesunyian itu, aku bertanya-tanya... *Apakah dia akan mengingatku?*
You Might Also Like: Peluang Bisnis Skincare Modal Kecil
Share on Facebook