Wajib Baca! Aku Mencintaimu Di Masa Lalu, Tapi Dendamku Lebih Kuat Dari Waktu
Aku Mencintaimu di Masa Lalu, Tapi Dendamku Lebih Kuat dari Waktu
Hujan menari di atas batu nisan. Setiap tetes adalah bisikan, setiap genangan adalah cermin yang memantulkan wajahku yang tak lagi utuh. Dulu, aku bernama Mei Hua. Sekarang, aku hanyalah bayangan, aroma melati di tengah malam, keheningan yang menusuk jiwa.
Lima tahun. Lima tahun berlalu sejak tubuhku ditemukan di tepi jurang, dengan surat wasiat yang bukan aku tulis. Lima tahun sejak Lin Wei, cintaku, menikahi saudara tiriku, Lian. Lima tahun sejak dendam tumbuh subur di hatiku yang hancur.
Aku kembali bukan untuk mencintai. Cinta itu mati bersama napas terakhirku. Aku kembali untuk mengungkap kebenaran. Untuk melihat mata Lin Wei memancarkan penyesalan saat dia tahu bahwa Lian, wanita yang dicintainya, adalah dalang di balik kematianku.
Malam demi malam, aku mengawasi mereka. Lin Wei, dengan wajah yang semakin menua, dengan mata yang menyimpan kesedihan mendalam. Lian, dengan senyum palsu yang menghiasi bibirnya yang tipis, dengan tatapan dingin yang menyiratkan kebusukan di dalam hatinya.
Aku bisa menyentuh mereka, tapi sentuhanku hanya terasa seperti hembusan angin dingin. Aku bisa berbicara, tapi suaraku hanya gema di lorong-lorong waktu. Aku adalah roh yang terperangkap, terikat pada dunia ini oleh kebohongan dan ketidakadilan.
Di perpustakaan tua, di antara rak-rak buku yang menjulang tinggi, aku menemukan petunjuk pertama. Sebuah buku harian tersembunyi, dengan tulisan tangan Lian yang tergesa-gesa. Kata-kata di dalamnya memuntahkan racun, ambisi, dan kebencian yang membara terhadapku. Lian menginginkannya. Semuanya. Lin Wei. Kekayaan. Hidupku.
Aku merasakan amarah membakar nadir jiwaku. Ingin rasanya aku berteriak, mencakar wajahnya, menghancurkan kebahagiaannya. Tapi kemudian, aku melihatnya. Di balik topeng kebencian, di balik rencana jahatnya, aku melihat ketakutan. Ketakutan akan ditinggalkan, ketakutan akan kesepian, ketakutan akan masa lalu yang kelam.
Dan aku menyadari. Bukan balas dendam yang aku cari. Yang aku inginkan hanyalah KEDAMAIAN. Kedamaian untuk diriku sendiri, kedamaian untuk Lin Wei, bahkan kedamaian untuk Lian.
Dengan napas terakhir yang tak berwujud, aku membimbing Lin Wei menuju buku harian itu. Aku menanamkan perasaan aneh, sebuah intuisi yang tak bisa dijelaskan, untuk membawanya ke tempat itu. Aku melihatnya membaca kata-kata itu, matanya membulat, wajahnya memucat.
Dan kemudian, dia menatap ke arahku. Bukan dengan tatapan melihat, tapi dengan tatapan mengerti. Tatapan yang mengatakan, "Aku tahu, Mei Hua. Aku tahu."
Di malam yang sama, Lian mengakui segalanya. Tangisannya memenuhi rumah besar itu, tapi tangisan itu hanyalah air mata buaya. Lin Wei, meskipun hatinya hancur, membebaskannya. Dia menyerahkan Lian ke pihak berwajib, melepaskan beban yang selama ini menghantuinya.
Hujan berhenti. Bulan menyinari nisan-ku. Bayangan yang selama ini menolak pergi, perlahan memudar. Dendamku telah sirna. Kebenaran telah terungkap. Kedamaian telah datang.
Aku akhirnya bisa tersenyum... untuk terakhir kalinya.
You Might Also Like: Cerita Seru Bayangan Yang Terlahir Dari