Cerpen: Pelukan Yang Menghangatkan Duka
Kabut senja merayap di atas Sungai Yangtze, sama kelamnya dengan perasaan Lin Yue. Di hadapannya, berdiri Zhao Feng, pria yang dulu adalah dunianya, kini hanya bayangan masa lalu. Sepuluh tahun telah berlalu sejak Zhao Feng meninggalkan desa mereka, meninggalkan Lin Yue dengan janji abadi yang ternyata hanya sebatas ucapan bibir. Sekarang, ia kembali, dengan jas mahal dan tatapan mata yang asing.
"Yue'er..." bisiknya, suara seraknya membelah keheningan. "Aku... aku minta maaf."
Lin Yue tertawa hambar. "Maaf? Sepuluh tahun, Zhao Feng. Sepuluh tahun aku menunggu. MENUNGGU! Kau ingat janji di bawah pohon plum saat musim semi?" Angin berdesir, seolah Pohon Plum itu sendiri ikut mengenang.
Zhao Feng mendekat, tangannya terulur ragu. "Aku terpaksa, Yue'er. Aku harus... demi keluarga."
Lin Yue menepis tangannya. Dulu, ia akan luluh dengan alasan itu. Dulu, ia mencintai Zhao Feng lebih dari dirinya sendiri. Sekarang, yang tersisa hanya puing-puing harapan dan luka yang menganga.
"Keluarga?" gumam Lin Yue. "Kau pikir aku tidak punya keluarga? Aku punya IBU yang menangis setiap malam menanyakan kabarmu. Aku punya AYAH yang meninggal dengan nama ZHAO FENG di bibirnya, menunggumu kembali untuk menikahi putrinya." Air mata mengalir deras di pipinya, membasahi kerut-kerut yang mulai tampak.
Zhao Feng terdiam, wajahnya pucat pasi. Penyesalan tercetak jelas di setiap garis wajahnya. Ia mencoba memeluk Lin Yue, mendekapnya erat seperti dulu, berharap dapat menghapus semua luka dan dosa.
"Biarkan aku menebusnya, Yue'er. Biarkan aku..."
Lin Yue membiarkan dirinya dipeluk. Sentuhan yang dulu menghangatkan, kini terasa dingin dan hampa. Ia membiarkan air matanya membasahi jas mahal Zhao Feng, sebuah lukisan penyesalan di atas kanvas kemewahan.
"Kau tidak bisa menebus apapun, Zhao Feng," bisiknya lirih di telinga Zhao Feng. "Kau tahu itu."
Pelukan itu terasa lama, sangat lama. Rasanya seperti memeluk hantu masa lalu, sebuah hantu yang akan terus menghantui Zhao Feng sampai akhir hayatnya.
Beberapa bulan kemudian, tersiar kabar bahwa perusahaan Zhao Feng bangkrut, hancur lebur karena serangkaian KECELAKAAN yang aneh dan tak terduga. Keluarga Zhao Feng kehilangan segalanya. Zhao Feng sendiri, hidup dalam kemiskinan dan penyesalan yang mendalam, seperti daun kering yang diterbangkan angin. Kabar itu sampai ke telinga Lin Yue, namun ia tidak tersenyum. Ia hanya menatap Sungai Yangtze, yang kini memantulkan langit malam yang penuh bintang.
Malam itu, Lin Yue bermimpi tentang Pohon Plum. Bunganya berguguran, menutupi mayat seorang pria di bawahnya. Di tangannya, tergenggam sehelai kain sutra dengan sulaman bunga plum yang sama persis dengan milik Lin Yue.
Apakah ini keadilan, atau hanya awal dari kehancuran yang lebih besar?
You Might Also Like: 0895403292432 Distributor Kosmetik