Mahkota Yang Berlumur Darah Sendiri
Mahkota yang Berlumur Darah Sendiri
Embun pagi merayap di kelopak bunga peony, sehalus sentuhan bibir ibu pada dahi anak. Namun, di balik kelembutan itu, tersembunyi racun yang mematikan. Di Istana Giok, LIAN YUN, sang permaisuri yang anggun, menyimpan rahasia kelam. Setiap senyumnya adalah topeng, setiap kata adalah belati terhunus. Ia hidup dalam kebohongan yang ia bangun sendiri, sebuah istana pasir yang kokoh namun rapuh.
Di sisi lain, ZHAO WEI, sang pangeran ke-7, kembali dari medan perang dengan luka di jiwa. Kematian ayahnya, Kaisar Zhao, menyisakan tanya yang menganga. Ia mencium aroma pengkhianatan di setiap sudut istana, terutama dari Lian Yun, ibu tirinya yang terlalu sempurna. Zhao Wei bertekad mencari kebenaran, meski kebenaran itu akan menghancurkan seluruh dunia yang ia kenal.
"Permaisuri," Zhao Wei berkata, suaranya rendah namun menusuk, "kematian Kaisar terasa terlalu mendadak. Apakah Anda tidak merasa ada yang ganjil?"
Lian Yun menatapnya dengan mata sedingin es. "Pangeran, Anda terlalu lama berada di medan perang. Pikiran Anda dipenuhi kecurigaan yang tidak berdasar. Kaisar mangkat karena sakit. Itu saja."
Namun, Zhao Wei tidak percaya. Ia mulai menggali masa lalu, mengungkap jaringan intrik dan pengkhianatan yang menjerat seluruh istana. Semakin dalam ia mencari, semakin jelas bayangan Lian Yun terlihat di balik setiap tragedi. Ia menemukan surat-surat rahasia, saksi-saksi bisu yang dibungkam, dan jejak-jejak racun mematikan.
Konflik antara Zhao Wei dan Lian Yun semakin membara. Setiap pertemuan mereka adalah pertarungan kata-kata yang mematikan, setiap tatapan adalah ancaman tersembunyi. Lian Yun menggunakan seluruh kekuasaannya untuk menghalangi Zhao Wei, menyebarkan fitnah dan mengirim pembunuh bayaran. Namun, Zhao Wei tidak menyerah. Ia memiliki sekutu setia, para kasim dan dayang yang menyimpan dendam terhadap Lian Yun.
Puncak dari semua ini terjadi pada peringatan kematian Kaisar. Zhao Wei mengumpulkan bukti-bukti yang ia miliki dan mengungkapnya di hadapan seluruh keluarga kerajaan dan para pejabat tinggi. Ia menuduh Lian Yun meracuni Kaisar, merebut kekuasaan, dan mengkhianati negara!
Lian Yun menyangkal dengan keras, namun kebenaran terlalu kuat untuk disembunyikan. Saksi-saksi kunci yang selama ini ketakutan akhirnya berani bersuara. Surat-surat rahasia dibacakan di depan umum. Racun yang digunakan untuk membunuh Kaisar ditemukan di kamar Lian Yun.
Lian Yun kalah. Kebohongan yang ia bangun selama bertahun-tahun runtuh menjadi debu. Ia ditangkap dan dijatuhi hukuman mati. Namun, Zhao Wei tidak menginginkan kematian yang cepat dan mudah.
Ia mengunjungi Lian Yun di selnya sebelum eksekusi. "Permaisuri," katanya dengan nada tenang, "Anda telah mencuri segalanya dari saya. Ayah saya, kedamaian saya, dan kebahagiaan saya. Sekarang, giliran saya mengambilnya kembali."
Zhao Wei memerintahkan agar Lian Yun dieksekusi dengan cara yang sama seperti ia membunuh Kaisar. Racun yang sama, penderitaan yang sama.
Saat Lian Yun meregang nyawa, Zhao Wei hanya tersenyum tipis. Sebuah senyum yang menyimpan perpisahan, sebuah senyum yang menghancurkan. Ia telah membalas dendam. Tapi, di hatinya, hanya ada kehampaan.
Setelah eksekusi, Zhao Wei naik tahta. Ia memerintah dengan adil dan bijaksana, membawa kedamaian dan kemakmuran bagi kerajaannya. Namun, ia selalu ingat bayangan Lian Yun, pengingat bahwa kebenaran seringkali berlumur darah... darah sendiri.
Bayangan itu tetap ada, seperti bisikan angin yang selalu mengingatkan: apakah kebenaran yang ia cari benar-benar sepadan dengan harga yang harus dibayar?
You Might Also Like: Keep Your Family Organized And