Drama Populer: Pedang Itu Menghapus Luka Ratu, Tapi Juga Menghapus Kehidupannya
Hujan menggigil di atas genting istana yang terlupakan. Setiap tetesnya, seperti belati es, menusuk kulit dan menembus hingga sumsum tulang. Sama seperti luka di hati Ratu Mei Ling, yang bersemayam di balik tirai bambu, menatap nanar ke arah taman yang dulu menjadi saksi bisu cintanya.
Dulu, taman itu dipenuhi tawa. Dulu, Kaisar Xuan, pemuda gagah berani, mendeklarasikan cintanya di bawah pohon sakura yang sedang bermekaran. Dulu, Mei Ling adalah permaisuri yang dicintai, bertahta di singgasana hati sang kaisar.
Dulu. Kata itu kini terdengar seperti kutukan.
Bayangan Kaisar Xuan muncul di pelataran, langkahnya mantap namun matanya redup. Sejak kejadian itu, wajahnya selalu diliputi mendung. "Mei Ling," suaranya lirih, nyaris tenggelam dalam deru hujan. "Bagaimana keadaanmu?"
Mei Ling memalingkan wajah. "Seperti istana ini, Kaisar. Terlupakan dan dingin."
Xuan menghela napas. "Maafkan aku. Aku tahu, aku telah melukaimu."
"Luka? Kaisar, pedangmu bukan hanya melukai, tapi MENHANCURKAN!" Mei Ling berbisik getir. Pengkhianatan Xuan, tidurnya dengan selir Lian Hua, telah merobek hatinya berkeping-keping. Lian Hua, sahabat yang dikira saudara, ternyata adalah ular berbisa yang mengincar takhtanya.
Cahaya lentera di sudut ruangan nyaris padam, bergoyang tertiup angin malam. Seperti cinta Mei Ling, yang dulu menyala terang, kini hanya tinggal bara yang menunggu waktu untuk padam sepenuhnya. Setiap malam, Mei Ling menyulam. Bukan sulaman indah untuk menghias istana, tapi peta rumit yang mengarah ke ruang harta rahasia.
Bertahun-tahun ia merencanakan ini. Bertahun-tahun ia menahan sakit hati dan menelan air mata. Bertahun-tahun ia berpura-pura lemah dan terlupakan. Xuan mengira Mei Ling hanya meratapi nasib, tidak menyadari bahwa di balik mata redup itu, api dendam berkobar membara.
Suatu malam, Xuan menemukannya di ruang harta. Mei Ling berdiri di depan peti mati yang terbuat dari emas murni, di dalamnya terbaring mayat Lian Hua, selir kesayangannya yang misterius meninggal karena sakit.
"Apa yang kau lakukan di sini, Mei Ling?" tanya Xuan curiga.
Mei Ling tersenyum tipis. "Memastikan bahwa semua yang menjadi milikku akan kembali."
Xuan tertegun. "Apa maksudmu?"
Mei Ling mendekat, matanya setajam belati. "Kau bertanya-tanya mengapa Lian Hua meninggal begitu cepat, bukan?" Ia mengulurkan tangannya dan menyentuh peti mati emas itu. "Kau tahu, Kaisar, emas memiliki sifat yang sangat menarik. Ia bukan hanya indah, tapi juga..." Mei Ling berhenti, senyumnya menghilang. "...beracun."
Di saat Xuan menyadari kebenaran yang mengerikan, Mei Ling berbisik, "Sejak awal, bukan aku yang menjadi ratu di hatimu... Tapi bayangan ibuku, yang kau bunuh karena ambisimu."
You Might Also Like: 12 High Precision Non Invasive Blood