Drama Abiss! Pelukan Yang Kutinggalkan Di Masa Lalu
Angin musim gugur menyisir dedaunan maple di kuil tua, serupa tangan tak kasat mata yang mengusap kenangan. Di tempat inilah, di bawah rindangnya pohon keramat, aku dan Lian bertemu untuk pertama kalinya. Kami, dua anak yatim piatu, terikat takdir yang pahit. Lian, dengan senyum mentari dan mata yang menyimpan lautan rahasia. Aku, dengan ambisi membara dan luka yang tersembunyi di balik topeng ketenangan. Kami bersumpah setia, seperti dua anak panah yang ditakdirkan terbang menuju sasaran yang sama.
"Kita akan menaklukkan dunia ini, Lian. Bersama," ucapku, mengepalkan tangan kecilku erat.
Lian tertawa, suara yang dulu kurindukan lebih dari apapun. "Ya, Xiao Mei. Bersama."
Waktu berlalu, persahabatan kami tumbuh menjadi aliansi yang tak terpisahkan. Kami berlatih seni bela diri di bawah bimbingan guru yang bijaksana, saling melindungi di tengah kerasnya dunia persilatan. Kami menjadi saudara, meski darah kami berbeda. Kami menjadi senjata, diasah untuk satu tujuan: membalas dendam atas kematian keluarga kami.
Namun, di balik senyum dan pelukan hangat, benih kecurigaan mulai tumbuh. Pertanyaan-pertanyaan kecil, seperti duri yang menusuk perlahan. Mengapa Lian selalu menghindar ketika aku menanyakan tentang malam pembantaian itu? Mengapa matanya redup, dipenuhi kesedihan yang tak terucapkan?
Suatu malam, aku menyelinap ke kamar Lian. Di bawah tumpukan buku dan gulungan perkamen, aku menemukan sebuah kotak kayu tua. Di dalamnya, sebuah jepit rambut giok milik ibuku, yang hilang saat malam pembantaian. Hati terasa diremas.
Dialog kita, yang dulu penuh tawa, kini dipenuhi intrik.
"Lian, jepit rambut ini… darimana kau mendapatkannya?" tanyaku, suara bergetar.
Lian menunduk, rahangnya mengeras. "Aku… aku menemukannya di hutan."
Kebohongan yang menyakitkan. "Kau BOHONG!"
"Xiao Mei, percayalah padaku…"
"Bagaimana aku bisa percaya padamu, LIAN? Sementara kebenaran tersembunyi di balik senyummu yang munafik itu?!" Aku melempar jepit rambut itu ke lantai. "Katakan yang sebenarnya!"
Lian mengangkat wajahnya. Matanya berkilat marah. "Kau tidak mengerti apa-apa! Aku melakukan ini untuk MELINDUNGIMU!"
Kemudian, semuanya terungkap.
Ayah Lian, seorang pengkhianat yang mengkhianati keluargaku. Dia adalah dalang di balik pembantaian itu. Lian tahu kebenarannya sejak lama, namun dia memilih untuk diam, berusaha melindungiku dari kebenaran yang akan menghancurkanku. Dia mencoba menjauhkanku dari dendam, karena dia tahu, balas dendam hanya akan melahirkan penderitaan yang lebih besar.
Tapi, itu terlambat. Benih dendam telah berakar kuat di hatiku. Kebenaran ini… TERLALU MENYAKITKAN!
Malam itu, di bawah rembulan yang pucat, aku menghunus pedangku. Lian berdiri di hadapanku, tatapannya penuh kesedihan.
"Xiao Mei, jangan lakukan ini. Ini tidak akan mengembalikan apapun," bisiknya.
"Kau salah, Lian. Ini akan membebaskanku," jawabku, sebelum menyerang.
Pertarungan sengit terjadi. Pedang kami beradu, menciptakan percikan api di kegelapan malam. Aku tahu, Lian tidak ingin melawanku. Dia hanya bertahan, berharap aku akan berhenti. Tapi, aku tidak bisa. Aku HARUS membalas dendam.
Akhirnya, pedangku menembus dadanya. Lian tersenyum lemah, darah mengalir dari mulutnya.
"Aku… selalu mencintaimu, Xiao Mei," bisiknya.
Dia jatuh ke tanah. Mati.
Aku berdiri di sana, di tengah genangan darah, dengan pedang berlumuran darah di tanganku. Aku telah mendapatkan balas dendamku. Aku telah menghancurkan orang yang paling kucintai.
Di saat-saat terakhirnya, Lian menyerahkan sebuah surat kepadaku. Surat itu berisi pengakuan yang membuatku terdiam. Ayah Lian tidak sepenuhnya bersalah. Ibuku… ibuku juga terlibat. Dia mengkhianati keluargaku demi kekuasaan dan kekayaan. Ayah Lian hanya melakukan apa yang dia yakini benar, untuk melindungi Lian dari ibuku yang haus kekuasaan.
Dunia terasa runtuh di sekelilingku. Kebenaran ini… kebenaran ini menghancurkanku.
Aku membungkuk di atas jasad Lian, air mata membasahi wajahnya. Aku telah membunuh orang yang tidak bersalah. Aku telah menjadi monster.
Mungkin, seharusnya aku yang mati di malam itu…
You Might Also Like: Tafsir Bertemu Kucing Makna Lengkapnya