Absurd tapi Seru: Surat Yang Tak Pernah Terkirim Ke Pangeran Pengkhianat
Istana Giok berselimut kabut senja, sama kelamnya dengan hatiku. Tinta di ujung kuas terasa dingin membeku, seperti air mata yang mengering di pipi. Aku, Mei Lian, putri dari negeri yang kini kau jajah, mencoba merangkai kata, melukiskan luka, dalam surat yang takkan pernah sampai ke tanganmu, Pangeran Zhan.
Dulu, di bawah pohon persik yang sedang merekah, kau berjanji. Janji tentang dunia yang lebih baik, tentang dua kerajaan yang bersatu bukan dengan pedang, melainkan dengan CINTA. Janji yang kupercaya dengan segenap jiwa, bodohnya aku.
Aku ingat aroma dupa dan wangi anggrek di rambutmu saat kau mendekat, bisikanmu tentang takdir kita yang saling terikat. Aku ingat sorot matamu, yang kala itu kupikir tulus, kini ku lihat hanyalah pantulan ambisi keji.
Momen itu... saat kau menghunuskan pedang, bukan pada musuh, melainkan pada ayahku, Raja Li Wei. Momen itu membekukan waktu, meremukkan hatiku, membangkitkan KEBENCIAN yang membara.
(Saat pedang berlumuran darah ayahnya, Mei Lian melihat wajah Zhan yang dipenuhi rasa bangga, bukan penyesalan. Itulah momen dimana cintanya lenyap, digantikan oleh rasa sakit yang tak terperi.)
Surat ini berisi bukan kata-kata manis, Pangeran Pengkhianat. Surat ini adalah saksi bisu pengkhianatanmu, adalah manifestasi dari sumpahku. Kau merenggut kebahagiaanku, menghancurkan kerajaanku, dan mengambil nyawa orang yang paling kucintai.
Kini, aku di sini, di balik tirai istanamu, sebagai pelayan yang tak terlihat, sebagai bayangan yang mengintai. Aku mendengar bisikan-bisikan para menteri, melihat retakan dalam kerajaannya yang dibangun di atas darah dan dusta. Kekuasaan memang memabukkan, Zhan, tapi KEADILAN memiliki caranya sendiri untuk menyeimbangkan timbangan.
Kudengar kau akan segera menikah. Putri dari negeri tetangga yang kau taklukkan, sama seperti ayahku. Sungguh ironi yang pahit. Biarkan aku, Mei Lian, menjadi saksi bisu pernikahanmu. Biarkan aku menjadi anggur beracun yang kau teguk perlahan, menjadi bunga indah yang menyembunyikan duri mematikan.
Aku akan tersenyum padamu, Pangeran Zhan. Aku akan membungkuk hormat, melayani setiap kebutuhanmu. Aku akan menjadi bayangan setia yang kau harapkan, sementara di balik senyumku, RENCANA sedang dipersiapkan, seperti benih maut yang tumbuh subur di tanah yang subur.
Mungkin bukan aku yang akan menarik pedang, tapi percayalah, Pangeran, takdir memiliki mata dan ingatan yang tajam. Setiap kejahatan akan menemukan balasannya, cepat atau lambat.
Cinta yang dikhianati menjelma menjadi dendam yang abadi, dan akankah keduanya berdansa di atas kubur seorang pangeran pengkhianat?
You Might Also Like: Kekurangan Sunscreen Mineral Lokal_29