Cerpen Seru: Senyum Yang Mati Di Balik Tirai Putih
Senyum yang Mati di Balik Tirai Putih
Di sebuah mansion megah yang diselimuti kabut pagi, hiduplah seorang wanita bernama Annelise. Parasnya bagai porselen, matanya menyimpan samudra biru yang dalam, dan bibirnya melengkung dalam sebuah senyum yang... menipu. Ia adalah lambang keanggunan, seorang swan di tengah kerumunan angsa. Tapi, di balik tirai putih yang memisahkan hatinya dari dunia, tersembunyi luka yang menganga.
Cintanya pada Julian, sang pewaris tunggal keluarga Zhang, adalah sebuah simfoni yang rusak. Dulu, Julian adalah matahari dalam hidupnya, mentari yang menghangatkan setiap sudut hatinya. Namun, mentari itu perlahan meredup, digantikan rembulan palsu yang memancarkan cahaya dingin dan dusta.
Annelise ingat dengan jelas hari itu, hari di mana janji-janji Julian berubah menjadi belati yang menusuk jantungnya. Ia menemukan Julian, berpelukan mesra dengan wanita lain di taman belakang rumah mereka, tempat di mana dulu mereka berjanji untuk saling mencintai selamanya.
Pelukan itu... beracun.
Annelise tidak berteriak, tidak menangis. Ia hanya berbalik, berjalan menjauh dengan anggun, seolah-olah ia sedang menari di atas kaca yang pecah. Kehilangan itu seperti kabut yang merayapi jiwanya, membuat segalanya terasa dingin dan hampa. Ia adalah mayat yang masih bernapas.
Bertahun-tahun kemudian, Julian masih hidup dalam penyesalan. Ia menikah dengan wanita itu, tapi kebahagiaan tak pernah ia temukan. Perusahaan keluarganya merosot, reputasinya hancur. Annelise, di sisi lain, bangkit dari abu, menjadi wanita yang lebih kuat, lebih berpengaruh, lebih... berbahaya.
Balas dendam Annelise bukan darah atau air mata. Itu adalah penyesalan Julian yang abadi. Ia memastikan Julian menyaksikan keruntuhannya sendiri, merasakan kepedihan yang sama seperti yang pernah ia rasakan. Ia merebut segalanya tanpa menyentuhnya, membunuh Julian secara perlahan dengan kesunyiannya.
Di suatu malam yang sunyi, Annelise berdiri di balkon mansionnya, menatap kota yang gemerlap di bawah sana. Senyumnya kali ini berbeda. Senyum kemenangan, tapi juga senyum kesedihan. Ia telah membalas dendamnya, tapi hatinya tetap kosong.
Ia mengangkat segelas wine merah, menyesapnya perlahan. "Apakah ini yang namanya keadilan?" bisiknya pada diri sendiri.
Tirai putih berkibar lembut ditiup angin malam. Senyum itu, senyum yang mati, menghilang dari bibirnya.
Cinta dan dendam... lahir dari tempat yang sama.
You Might Also Like: 0895403292432 Jual Skincare Anti