Cerita Seru: Air Mata Yang Menemani Senja Terakhir
Air Mata yang Menemani Senja Terakhir
Aula Emas Istana Naga berkilauan di bawah temaram senja. Cahaya yang memantul dari ribuan lempengan emas itu seharusnya memancarkan kemuliaan, namun yang terasa justru hawa dingin yang merayap. Tatapan tajam para pejabat istana bagaikan belati terhunus, tersembunyi di balik senyum dan sapaan palsu. Di balik tirai sutra merah delima, bisikan pengkhianatan berdesir seperti ular berbisa, siap mematuk siapa saja yang lengah.
Di tengah lautan intrik ini, berdiri dua sosok yang terikat oleh benang merah cinta dan kekuasaan: Kaisar Muda, Li Wei, dan Permaisuri Kesayangan, Mei Lan.
Li Wei, dengan jubah naga keemasan yang menjuntai, memiliki tatapan elang yang tajam, mengamati setiap gerak-gerik di sekitarnya. Ia mencintai Mei Lan dengan segenap jiwa raganya, namun kekaisaran menuntut lebih dari sekadar cinta. Setiap kebijakan, setiap aliansi, harus dipertimbangkan dengan cermat, karena setiap keputusan bisa berarti perang atau kedamaian, kejayaan atau kehancuran.
Mei Lan, bak bunga teratai yang tumbuh di antara lumpur, adalah oasis di tengah gurun politik yang kejam. Kecantikannya memukau, kecerdasannya menandingi para penasihat istana. Namun, hatinya dilanda badai keraguan. Cinta Li Wei begitu mendalam, namun kekuasaan membutakan. Apakah ia dicintai sebagai seorang wanita, atau hanya sebagai alat untuk memperkuat takhta?
Cinta mereka menjadi permainan takhta. Janji-janji diucapkan di bawah rembulan, sumpah setia diikrarkan di kuil-kuil kuno. Namun, setiap kata bisa menjadi pedang bermata dua, setiap pelukan bisa menjadi jerat yang mematikan. Li Wei menjanjikan Mei Lan posisi yang tak tergoyahkan, kekuasaan tanpa batas. Mei Lan membalas dengan kesetiaan mutlak, dukungan tanpa syarat.
Namun, pengkhianatan merajalela. Pangeran Rong, paman Li Wei yang ambisius, menebar jaring kebohongan dan fitnah. Ia membisikkan keraguan ke telinga Li Wei, menanamkan benih kecurigaan terhadap Mei Lan. Ia berbisik tentang konspirasi, tentang aliansi tersembunyi, tentang keinginan Mei Lan untuk merebut takhta.
Li Wei, yang dibutakan oleh kekhawatiran akan kekuasaan, mulai meragukan Mei Lan. Ia mengurungnya di Istana Giok, memisahkannya dari dunia luar. Ia memata-matai setiap gerak-geriknya, menyadap setiap percakapannya.
Mei Lan, yang hatinya hancur berkeping-keping, merasakan KEADILAN yang begitu pahit. Cinta yang pernah ia percayai, kini berubah menjadi penjara emas. Ia tahu, ia harus bertindak. Ia tidak akan menjadi korban. Ia akan menjadi pemburu.
Dengan kesabaran yang membara, Mei Lan mulai menyusun rencana. Ia menggunakan kecerdasannya untuk melawan kecurigaan Li Wei. Ia menggunakan kecantikannya untuk memikat para sekutu rahasia. Ia menggunakan kesetiaannya yang tulus untuk membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah.
Di hari PENTING saat Li Wei berencana untuk secara resmi menurunkan Mei Lan dari jabatannya, Mei Lan melancarkan serangannya. Ia mengungkapkan bukti-bukti yang tak terbantahkan tentang pengkhianatan Pangeran Rong. Ia menunjukkan bagaimana Pangeran Rong telah memfitnahnya, bagaimana ia telah merencanakan pemberontakan, bagaimana ia telah mengkhianati kaisar dan kekaisaran.
Li Wei, yang terpukul oleh kebenaran yang terungkap, memerintahkan penangkapan Pangeran Rong. Sang paman merintih dan berteriak, memohon ampunan, namun sudah terlambat. Hukum telah ditegakkan.
Namun, dendam Mei Lan belum usai. Ia tidak akan membiarkan Li Wei lolos begitu saja. Ia tidak akan memaafkan pengkhianatannya, keraguannya, ketidakpercayaannya.
Di malam GELAP saat Li Wei meminta maaf dan memohon kesempatan kedua, Mei Lan menolak. Ia mengungkapkan bahwa ia telah meracuni anggur Li Wei dengan racun yang bekerja perlahan, tanpa bekas. Li Wei, yang terpana dan tak percaya, jatuh berlutut.
Mei Lan menatap Kaisar Muda yang sekarat itu dengan mata sedingin es. "Kau telah memilih kekuasaan daripada cinta," bisiknya. "Sekarang, kau akan kehilangan keduanya."
Li Wei menghembuskan nafas terakhirnya di pangkuan Mei Lan, air mata membasahi wajahnya yang pucat. Mei Lan bangkit, berdiri tegak di hadapan para pejabat istana yang terkejut dan ketakutan. Ia telah menang. Ia telah membalas dendam. Ia telah merebut takhta.
Dengan anggun dan dingin, Mei Lan menyeka air mata terakhirnya. Ia adalah Permaisuri Kekaisaran Naga, dan kekuasaannya baru saja dimulai.
Sejarah baru saja menulis ulang dirinya sendiri, dan tintanya adalah DARAH.
You Might Also Like: Peluang Bisnis Kosmetik Bisnis Rumahan