Cerpen Terbaru: Bayangan Yang Menatap Dari Dunia Lain
Kabut lavender menyelimuti Danau Bulan Purnama, permukaannya tenang bagai cermin yang menyimpan rahasia abad lalu. Di tepiannya, berdiri paviliun usang, atapnya dipenuhi lumut, saksi bisu kisah yang tak terucap. Di sanalah, di antara pilar-pilar yang keropos, aku pertama kali melihatnya.
Bukan dalam wujud nyata, melainkan dalam lukisan. Potret seorang wanita bergaun sutra zamrud, matanya bagai bintang jatuh yang terperangkap dalam kanvas. Tatapannya menembus jiwa, menyisakan jejak rindu yang perih.
Namanya, terukir samar di sudut lukisan, "Ling'er."
Sejak saat itu, malam-malamku dipenuhi mimpi. Aku menjelajahi taman-taman yang dipenuhi bunga peoni, mendengar gemericik sungai jernih, dan merasakan sentuhan angin yang membawa aroma dupa cendana. Di setiap sudut mimpi, Ling'er hadir, senyumnya sehangat mentari pagi, suaranya semerdu kecapi yang dipetik dewa.
Namun, setiap kali aku mencoba menyentuhnya, dia menghilang bagai bayangan di air. Cinta ini bagai bulan di telaga, indah namun tak terjangkau. Apakah dia nyata? Ataukah hanya ilusi yang diciptakan oleh kesepianku?
Hari demi hari, aku menelusuri jejaknya. Mencari petunjuk di antara lembaran-lembaran buku kuno, mendengarkan cerita para tetua desa, berharap menemukan benang merah yang menghubungkan aku dengan wanita dalam lukisan itu.
Kemudian, suatu sore yang berangin, aku menemukan sebuah kotak musik antik di loteng rumah tua. Kotak itu berdebu, berkarat, dan nyaris terlupakan. Saat kubuka, melodi sendu mengalun, menggetarkan setiap inci ruang hatiku.
Di dalam kotak, terbaring sehelai rambut hitam legam, dan sepotong surat usang. Tulisannya pudar, namun terbaca jelas, "Untuk kekasihku, Jing'an... aku menunggumu di Danau Bulan Purnama, hingga akhir zaman."
Jantungku berdegup kencang. Jing'an... itulah namaku.
Air mata mengalir deras membasahi pipiku. Lukisan itu... mimpi-mimpi itu... semua adalah kenangan dari kehidupan yang terlupakan. Aku adalah Jing'an, dan Ling'er adalah kekasihku. Namun, tragedi memisahkan kami, dan ingatan tentangnya terkubur dalam palung waktu.
Aku berlari ke Danau Bulan Purnama, berharap menemukan jejaknya, satu-satunya petunjuk tentang di mana dia sekarang. Di tengah kabut lavender, aku melihatnya. Bayangan Ling'er berdiri di tepian danau, gaun sutra zamrudnya berkibar tertiup angin.
Dia tersenyum padaku, senyum yang terlalu indah untuk ditanggung oleh hatiku yang terluka. Dia mengulurkan tangannya, mengajakku menyeberangi batas antara dunia nyata dan dunia mimpi.
Saat itulah aku mengerti.
Cintaku padanya adalah kutukan abadi. Kami ditakdirkan untuk bertemu hanya dalam mimpi, dalam lukisan, dalam dimensi waktu yang terlupakan. Aku adalah narapidana masa lalu, terikat selamanya pada bayangan Ling'er, bayangan yang menatapku dari dunia lain.
"Danau ini...adalah pusara kita..."
You Might Also Like: Agen Kosmetik Supplier Kosmetik Tangan