Judul: Kabut Senja di Lembah Terlarang Hujan menggigil membasahi atap gubuk reyot. Wangi tanah basah bercampur aroma akar pahit menusuk hidung, mengingatkanku pada malam itu, malam terakhir aku melihatnya hidup. Li Mei, dengan senyum *manis* yang kini terasa seperti pisau berkarat. Dulu, Li Mei adalah matahariku. Tawanya adalah melodi, tatapannya adalah janji abadi. Kami berjanji di bawah pohon sakura yang bermekaran, bahwa cinta kami akan sekuat Gunung Tai dan seindah Sungai Yangtze. Tapi kemudian, datanglah badai itu. Badai bernama Pengkhianatan. Kini, bertahun-tahun berlalu. Aku, Zhao Wei, kembali ke lembah ini, dipandu oleh surat tanpa nama yang dikirimkan padaku. Di sinilah, di gubuk ini, aku menunggunya. Menunggu Li Mei. Cahaya lentera minyak menari-nari di dinding, menciptakan bayangan yang *patah*. Setiap detik terasa seperti jarum yang menusuk jantungku. Pintu berderit terbuka. Li Mei berdiri di ambang pintu. Dia tersenyum. Senyum yang sama, namun ada sesuatu yang berbeda. Ada kedinginan yang menusuk di matanya, kekosongan yang menghantui. Kulitnya pucat, hampir transparan. "Zhao Wei," bisiknya, suaranya seperti desahan angin di pepohonan bambu. "Kau datang." Aku menelan ludah. "Li Mei... kau... kau *berubah*." Dia tertawa, tawa tanpa kehangatan, tawa yang membuat bulu kudukku meremang. "Berubah? Ya, Zhao Wei. Kau yang mengubahku." Dia berjalan mendekat, langkahnya ringan, nyaris tanpa suara. Dia berhenti tepat di depanku. Aroma melati yang dulu memabukkan kini berbau anyir. "Kau pikir aku mati, Zhao Wei? Kau pikir kau lolos begitu saja?" Aku terdiam. Dulu, aku percaya dia meninggal karena kecelakaan. Aku percaya aku tidak bersalah. Tapi melihat matanya, aku tahu. Aku selalu tahu. "Aku membunuhmu dengan kata-kataku, Li Mei. Dengan dustaku. Aku... aku minta maaf." Dia mengangkat tangannya, menyentuh pipiku. Sentuhan itu dingin, sedingin es. "Maaf tidak cukup, Zhao Wei. *Balas dendam* adalah keadilan yang sesungguhnya." Hujan semakin deras. Petir menyambar, menerangi wajahnya yang pucat. Aku melihatnya. Melihat sesuatu yang tersembunyi di balik senyumnya. Sesuatu yang bukan manusia. "Kau... kau bukan lagi Li Mei yang kukenal." Dia mendekatkan wajahnya ke telingaku. "Kau benar, Zhao Wei. Aku bukan lagi Li Mei yang kau cintai. Aku adalah **senyum dalam kabutmu, mimpi burukmu yang abadi.**" Dia mundur selangkah. Cahaya lentera berkedip-kedip, nyaris padam. Bayangan kami menari-nari di dinding, semakin membesar, semakin mengerikan. "Aku telah menunggu *selama bertahun-tahun*, Zhao Wei. Untuk saat ini." Dia mengangkat tangannya. Dari balik jubahnya, dia mengeluarkan sebuah botol kecil. Isinya cairan hitam pekat yang berbau busuk. "Ini adalah ramuan yang kau buat, Zhao Wei. Racun yang kau berikan pada ibuku. Racun yang akan membawamu ke *alam baka*." Aku terhuyung mundur. Racun itu? Aku...? "Kau lupa, Zhao Wei? Ibuku adalah seorang tabib. Dia tahu siapa yang meracuninya. Dan sebelum dia meninggal, dia membisikkan namamu padaku." Dia tersenyum. Senyum yang akhirnya mengungkap kebenaran yang selama ini tersembunyi. Senyum yang membuktikan bahwa *selama ini, akulah yang menjadi pion dalam permainannya yang mengerikan* — dan kebenaran itu adalah... **dia tidak pernah benar-benar mencintaiku!**
You Might Also Like: Tips Skincare Lokal Untuk Kulit

Share on Facebook