**Bayangan yang Tak Sempat Kulepaskan** Hujan turun di Nanjing, sama seperti malam itu, lima tahun lalu. Aromanya membawa kembali ***kenangan*** yang seharusnya sudah kubuang jauh-jauh. Kenangan tentang Lin Wei, senyumnya sehangat teh Longjing di pagi hari, tawanya seceria lonceng angin di kuil. Dulu, kami adalah dua sisi mata uang – tak terpisahkan. Dia melukis di kanvas dengan warna-warna berani, aku merangkai kata di atas kertas dengan tinta yang sama beraninya. Kami berjanji di bawah pohon *wisteria* yang bermekaran, janji yang sederhana: **selalu bersama**. Namun, janji itu seperti kelopak bunga yang gugur dihempas badai. Ayahnya, sang Jenderal yang disegani, menjodohkannya dengan putra seorang pejabat tinggi. Lin Wei, dengan mata berkaca-kaca, mengatakan padaku, "Aku tidak punya pilihan, Ming." Kata-kata itu menghancurkan hatiku menjadi serpihan yang tak mungkin lagi disatukan. Malam itu, di bawah hujan yang sama derasnya, dia berdiri di depanku. Gaun pengantin merahnya basah kuyup. "Ming, bantu aku…" lirihnya. Aku menggeleng, lumpuh oleh kekecewaan dan amarah. "Kamu membuat pilihanmu, Lin Wei. Sekarang, hiduplah dengannya." Kini, lima tahun berlalu. Aku kembali ke Nanjing, bukan sebagai seorang penyair miskin, melainkan sebagai seorang pengusaha yang sukses. Kekayaanku telah memungkinkan aku untuk membeli hampir seluruh kota, termasuk pabrik teh tempat keluarga Jenderal itu menggantungkan hidupnya. *IRONIS*, bukan? Kudengar, Lin Wei tidak bahagia. Suaminya kasar dan berjudi. Jenderal itu jatuh sakit dan bisnisnya merugi. Aku bisa saja membantunya. Aku BISA. Tapi, aku memilih untuk diam. Membiarkan mereka merasakan kepedihan yang sama, bahkan mungkin lebih. Malam ini, aku berdiri di depan pabrik teh yang sudah tua. Hujan semakin deras. Kulihat Lin Wei di kejauhan, berdiri di bawah satu-satunya lampu yang masih menyala. Dia terlihat kurus dan rapuh. Matanya, dulu penuh dengan cahaya, kini hanya menyimpan kesedihan. Dia menatapku. Tanpa kata. Hanya tatapan penuh penyesalan. Aku membalas tatapannya. Tanpa emosi. HANYA *KEADILAN*. Beberapa hari kemudian, kudengar Jenderal itu meninggal. Dan keluarga Lin Wei bangkrut. Sebuah tragedi. Sungguh. Beberapa orang menyebutnya takdir. Aku menyebutnya *karma*. Mungkin, suatu saat nanti, aku akan menyesalinya. Mungkin tidak. Mungkin, aku akan memaafkannya. Tapi, tidak sekarang. ***Sejauh mana cinta bisa menyamar menjadi balas dendam, dan sebaliknya?***
You Might Also Like: 41 Tutorial Sunscreen Lokal Ringan Aman

Share on Facebook