(Judul: Kau Berkata Akan Menghapus Semua Dosa, Tapi Aku Yang Tak Ingin Ditebus) Kabut *unggul* menyelubungi Paviliun Anggrek, seputih ingatan yang mulai pudar. Di sanalah, di antara gemericik air kolam teratai dan hembusan angin yang membawa aroma melati, pertama kali kulihat senyummu. Senyum yang bagai bulan purnama di tengah gelapnya **kalbuku**. Kau, seorang *dewa* yang turun ke dunia fana, dengan jubah sutra berwarna senja. Aku, hanyalah bayangan yang menari di dinding istanamu, seorang pelukis yang terjebak dalam **mimpi**. Kau berkata, dengan suara selembut seruling bambu, "Aku akan menghapus semua dosamu, Awan Senja. Biarkan aku menebusmu dari belenggu masa lalu." Namun, dosaku adalah dirimu. Cinta ini, bagai anggur *beracun*, yang membuatku mabuk hingga ke tulang sumsum. Aku tak ingin ditebus, tak ingin terbebas dari jerat cintamu yang terlarang. Lebih baik tenggelam dalam lautan dosa bersamamu, daripada hidup abadi di surga tanpa **kehadiranmu**. Setiap sapuan kuas adalah do'a, setiap warna adalah isyarat kerinduan. Kucurahkan seluruh hatiku pada kanvas, menciptakan potret dirimu yang abadi. Di sana, kau tersenyum selamanya, terbebas dari kerasnya dunia, terbebas dari takdir yang kejam. Kita menari di bawah hujan bunga sakura, tertawa di antara bintang-bintang yang berjatuhan. Dunia terasa berhenti berputar, hanya ada kita, dalam dimensi waktu yang terlupakan. Apakah ini nyata? Apakah ini hanya ilusi dari hati yang rindu? Aku tak tahu, dan jujur, aku tak *peduli*. Suatu malam, saat bulan bersinar paling terang, kau mengungkapkan sebuah rahasia. Sebuah kebenaran yang menghancurkan seluruh duniaku. "Awan Senja," bisikmu, suaramu bergetar. "Aku... aku hanyalah pantulan dirimu. Aku adalah bagian dari jiwamu yang kau ciptakan sendiri. Aku tidak nyata." Tiba-tiba, Paviliun Anggrek menghilang. Hujan bunga sakura berhenti. Bintang-bintang padam. Kau pun lenyap, bagai kabut pagi yang ditiup angin. Hanya tersisa aku, sendirian, dalam kehampaan yang **menganga**. Potret dirimu di kanvas menatapku dengan tatapan kosong. Air mataku jatuh membasahi wajahmu yang *sempurna*. Kau bukan dewa. Kau hanyalah ilusi, proyeksi dari hatiku yang kesepian. Misteri terpecahkan. Tapi keindahannya justru membuat luka makin dalam. Kini, aku tahu. Cintaku padamu, adalah cinta pada diriku sendiri. Cinta pada mimpi, pada harapan, pada *keindahan* yang tak pernah ada. ... Dan di kejauhan, terdengar bisikan: *“Jangan pernah lupakan mimpi itu…”*
You Might Also Like: Dracin Populer Aku Menulis Surat

Share on Facebook