**Janji yang Menjadi Luka Abadi** Di lembah kabut sutra, tersembunyi di antara gunung-gunung **ABADI** yang menjulang, berdirilah Paviliun Rembulan Pudar. Di sanalah, di antara lukisan-lukisan kuno yang debunya menari dalam cahaya senja, aku menemukanmu. Bukan dalam daging dan darah, melainkan dalam sapuan kuas yang seolah bernapas, dalam senyum yang **SELAMANYA** terukir di kanvas. Namamu, yang tertera dalam aksara kaligrafi halus di sudut lukisan, adalah Bai Lian. Kau, seorang putri dari dinasti yang terlupakan, terperangkap dalam bingkai waktu yang sunyi. Setiap malam, ketika rembulan memeluk paviliun, kau menjelma nyata. Suaramu, bagai dentingan lonceng angin di taman **MIMPI**, mengalunkan kisah cinta yang tak mungkin. Kita menari di bawah cahaya bintang yang redup, tubuh kita bagai bayangan yang berpadu dalam harmoni. Aku, seorang pengembara waktu yang tersesat, dan kau, seorang putri yang terkutuk untuk **KEKAL** berada dalam lukisan. Cintaku padamu tumbuh subur di tanah ketidakmungkinan, seindah bunga persik yang mekar di musim salju. Namun, cinta ini adalah racun yang manis. Setiap sentuhanmu adalah sengatan kerinduan yang mendalam. Aku tahu, kau hanyalah ilusi, pantulan dari jiwa yang mendamba keindahan. Tapi, hatiku menolak untuk percaya. Aku menggantungkan diri pada setiap tatapan, setiap bisikan, setiap janji yang terucap di bawah rembulan. Waktu terus mengikis, dan aku semakin terbenam dalam dunia lukisan. Aku mulai meragukan realitas. Apakah paviliun ini nyata? Apakah aku nyata? Atau, kita berdua hanyalah khayalan dari seorang pelukis yang putus asa? Suatu malam, ketika badai mengamuk dan petir membelah langit, lukisan itu mulai retak. Wajahmu, Bai Lian, mulai memudar. Aku meraihmu, berusaha menahanmu dalam pelukanku. "Jangan pergi!" teriakku, suaraku tenggelam dalam gemuruh badai. Kau tersenyum, senyum yang penuh kesedihan. "Sudah saatnya, **KEKASIH**. Aku harus kembali ke dalam lukisan." Kemudian, sebuah cahaya terang benderang menyinari paviliun. Aku melihat ke belakang lukisan yang retak. Di sana, tersembunyi di balik kanvas, terdapat sebuah guci kuno. Di dalamnya, tergeletak abu tulang belulang. Sebuah tulisan terukir di guci: *“Bai Lian, Putri Terakhir dari Dinasti yang Hilang. Ia mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan rakyatnya dari wabah mematikan. Jasadnya dikremasi, abunya diletakkan di dalam lukisan agar ia abadi di dalam ingatan.”* **RAHASIA** itu terungkap. Bai Lian bukan hanya lukisan, ia adalah ingatan, pengorbanan, dan cinta yang abadi. Ia adalah **HANTU** yang bergentayangan di dalam lukisan, menanti seseorang untuk mengingatnya. Keindahan itu menghantamku seperti pedang. Kebenaran ini lebih menyakitkan daripada **KEHILANGAN** yang kutakutkan. Aku mencintai sebuah ilusi, sebuah ingatan, sebuah **PENGORBANAN**. Dan sekarang, ia harus kembali ke dalam lukisan, **SELAMANYA**. Aku memeluk guci itu erat-erat, air mata membasahi abunya. "Bai Lian..." Dan dalam sunyi, aku mendengar bisikan dari masa lalu: *“Jangan lupakan aku…”*
You Might Also Like: Unveiling Rats Egg Eating Habits And

Share on Facebook