Oke, ini dia kisah pendek bergaya Dracin, "Senyum yang Tumbuh di Atas Luka": **Senyum yang Tumbuh di Atas Luka** Hujan gerimis membasahi kota Shanghai. Di balik jendela kaca apartemen mewah, Aileen berdiri. Gaun sutra merah *menyala* yang membungkus tubuhnya kontras dengan wajahnya yang pucat. Senyum tipis menghiasi bibirnya – senyum yang selalu menipu, senyum yang sudah terlatih menyembunyikan lautan badai di dalam hatinya. Dulu, senyum ini hanya untuk Li Wei, mata itu hanya untuk Li Wei, seluruh dunianya hanya untuk Li Wei. Li Wei, tunangannya, kekasih hatinya, ***pengkhianatnya***. Lima tahun. Lima tahun Aileen mencintai Li Wei dengan sepenuh jiwa. Lima tahun ia membangun imperium bisnis bersamanya, mengorbankan segalanya demi mimpi mereka. Dan sebagai balasan, Li Wei memberinya **penderitaan**. Aileen mengingat malam itu. Malam ketika ia tak sengaja mendengar percakapan Li Wei dengan selingkuhannya, seorang model muda yang sedang naik daun. Kata-kata yang terucap bagai belati yang menghujam jantungnya. Janji-janji Li Wei – janji setia, janji cinta abadi – berubah menjadi *belati* yang mengoyak perasaannya. Pelukan Li Wei, yang dulu terasa hangat dan aman, kini terasa *beracun*, menjijikkan. Aileen menarik napas dalam-dalam. Ia tidak menangis. Ia tidak berteriak. Ia hanya merasa hampa. Kekosongan yang lebih menakutkan daripada amarah yang membara. Ia memilih untuk diam, untuk menyusun rencana. Balas dendam bukan tentang darah dan air mata. Balas dendamnya adalah ***penyesalan abadi*** yang akan menghantui Li Wei seumur hidupnya. Perusahaan Li Wei kini di ambang kebangkrutan. Aileen, dengan senyum manis dan elegansi yang memukau, telah menarik semua investasinya, mengalihkan semua kliennya, dan menjatuhkan Li Wei ke jurang kehancuran. Tidak ada yang tahu bahwa di balik senyum indahnya, Aileen adalah dalang dari semua ini. Beberapa bulan kemudian, Aileen berdiri di balkon apartemennya, menyaksikan Li Wei berjalan gontai di jalanan. Pakaiannya lusuh, wajahnya penuh penyesalan. Ia berhenti tepat di bawah balkon Aileen dan mendongak. Mata mereka bertemu. Li Wei mencoba tersenyum, tapi yang terlihat hanyalah kepedihan. Aileen membalas senyumnya, *senyum kemenangan yang dingin*. Tanpa sepatah kata pun, Li Wei menundukkan kepala dan pergi. Aileen berbalik, masuk ke dalam apartemennya. Ia merasa hampa. Ia telah membalas dendam, tapi hatinya tidak merasa lebih baik. Ia hanya merasa...kosong. Ia mengambil sebuah bingkai foto dari meja. Foto dirinya dan Li Wei, lima tahun yang lalu, ketika mereka masih saling mencintai. Air mata akhirnya menetes membasahi pipinya. Cinta dan dendam. Dua sisi mata uang yang sama. Aileen menyeka air matanya dan berkata pada dirinya sendiri, "Aku akan memulai hidup baru." Tapi ia tahu, jauh di lubuk hatinya, bayangan Li Wei akan selalu menghantuinya. Aileen menatap langit Shanghai yang mulai gelap. Senyumnya perlahan memudar, digantikan oleh ekspresi yang sulit dibaca. Cinta dan dendam lahir dari tempat yang sama, dan di sanalah benih-benih keduanya akan terus tumbuh.
You Might Also Like: 74 Mixed Inhibition Graph Richard Karns

Share on Facebook