**Cinta yang Tak Pernah Sembuh** *Di antara kabut Danau Bulan Sabit, terlukis wajahnya*. Seperti bias mentari pagi di atas sutra putih, kehadirannya begitu *fana*, nyaris tak terjangkau. Setiap helai rambutnya adalah sungai perak yang mengalir ke lembah mimpi. Setiap tatapannya, sebuah janji yang terukir di batu giok, abadi namun tak terucapkan. Aku, seorang pelukis bayangan, hanya mampu mengabadikannya dalam kanvas yang lapuk. Warnanya pudar seiring waktu, namun senyumnya tetap *membara*, membakar relung hatiku yang beku. Apakah dia nyata? Pertanyaan itu menggantung di langit-langit malamku, tanpa jawaban. Mungkin, dia hanyalah serpihan ingatan dari kehidupan lampau, sebuah *bisikan* dari taman terlarang, tempat bunga sakura abadi bermekaran. Aku bertemu dengannya di sana, di bawah naungan pohon plum yang gugur, saat musim dingin merajam jiwa. Dia menawariku setangkai bunga *es*, seputih salju yang belum ternoda, sekeras kepedihan yang tak terungkapkan. Setiap malam, aku bermimpi tentangnya. Kami menari di atas ombak samudra berlian, terbang melintasi galaksi yang bertaburan bintang, dan berbisik rahasia di telinga para dewa. Di dalam mimpi, tangannya terasa *hangat*, bibirnya selembut kelopak mawar. Tapi saat aku terbangun, hanya ada kehampaan yang membekas di jari-jariku. Waktu terus mengikis, meninggalkan jejak kerutan di wajahku dan debu di hatiku. Aku terus melukisnya, berharap suatu hari nanti, dia akan keluar dari kanvas dan menjadi *kenyataan*. Namun, yang kutemukan hanyalah bayangan diriku sendiri, menatap kosong ke arah cermin retak. Suatu senja, saat aku tengah merapikan studio yang berdebu, aku menemukan sebuah kotak kayu tua. Di dalamnya, terdapat sebuah *lukisan* yang belum selesai, tersembunyi di bawah tumpukan kanvas lama. Lukisan itu menggambarkan seorang pria dengan mata yang penuh dengan kerinduan, menatap seorang wanita yang siluetnya begitu familiar. Di balik lukisan itu, tertulis sebuah catatan dengan tinta yang hampir pudar: "Untuk cintaku yang hilang, di dimensi yang terlupakan. Aku tahu kamu akan menemukanku, meskipun hanya dalam *mimpi*." Genggamanku melemah. Jantungku berhenti berdetak. *Pria dalam lukisan itu adalah aku*. Dan wanita itu… Adalah dia. Keindahan penemuan ini menghancurkanku. Cinta ini, cinta yang tak nyata ini, *tidak pernah ada* di dunia nyata. Dia hanyalah ilusi, sebuah proyeksi dari keinginan terdalamku, sebuah pantulan dari jiwa yang kesepian. Air mata mengalir deras membasahi pipiku. Aku tertawa pahit, meratapi nasib seorang pelukis bayangan yang jatuh cinta pada ciptaannya sendiri. “Aku akan menunggumu, meskipun di balik tabir waktu…"
You Might Also Like: Kisah Populer Aku Berjanji Melindungimu

Share on Facebook