Oke, ini dia kisah pendeknya, dengan gaya yang kamu inginkan: **Senja di Lembah yang Terlupakan** Hujan menggigil merayapi Lembah Kabut Senja, tetesnya membasahi jubah abu-abu Xin Yi. Dulu, lembah ini adalah saksi bisu janji-janji mereka, tawa mereka, cinta yang membara bagai api unggun di malam dingin. Kini, hanya ada bayangan yang patah, mengikuti Xin Yi kemana pun ia pergi. Bayangan *masa lalu* yang tak pernah bisa dilupakannya. Di kejauhan, cahaya lentera di Paviliun Bulan Merah nyaris padam, sama redupnya dengan harapannya. Di sanalah dia menunggunya, Lin Wei, pria yang dulu adalah dunianya. Pria yang kini membawa bara api pengkhianatan di matanya. Xin Yi melangkah perlahan, setiap langkahnya terasa berat, seolah membawa beban seluruh gunung. Ingatannya melayang ke sepuluh tahun lalu, saat Lin Wei berlutut di bawah pohon sakura yang sedang mekar, mengucapkan sumpah setia abadi. Sumpah yang kemudian *DIHANCURKAN* menjadi debu. "Kau datang," suara Lin Wei dingin, tanpa senyum. Tatapannya tajam, menusuk seperti pedang. "Aku kira kau sudah melupakanku." Xin Yi terdiam, merasakan sakit yang sudah lama dipendamnya kembali mengoyak hatinya. Hujan semakin deras, seolah alam pun ikut menangis bersamanya. "Melupakanmu? Bagaimana mungkin?" bisiknya, suaranya bergetar. "Kau adalah *luka* yang tidak akan pernah sembuh." Lin Wei mencibir. "Luka? Akulah yang seharusnya mengatakan itu. Kau yang meninggalkanku, Xin Yi. Kau yang memilih jalanmu sendiri." "Aku memilih jalan *sendiri* karena kau merobek hatiku menjadi jutaan keping!" balas Xin Yi, air mata bercampur dengan air hujan di pipinya. Mereka saling berpandangan, terperangkap dalam labirin masa lalu yang pahit. Lin Wei mendekat, wajahnya penuh amarah dan kebencian. "Kau pikir aku tidak tahu? Kau pikir aku tidak tahu apa yang kau lakukan selama ini?" desisnya, suaranya rendah dan mengancam. "Semua 'kebajikan'mu, semua 'pengorbanan'mu... itu semua hanya topeng!" Xin Yi tersenyum pahit. "Topeng? Mungkin. Tapi topeng itu yang membuatmu percaya, bukan? Topeng itu yang memberimu waktu untuk... menikmati hidupmu." Lin Wei terkejut. Dia menatap Xin Yi dengan tatapan tidak percaya. "Apa maksudmu?" Xin Yi mendekat, berbisik di telinga Lin Wei, suaranya setenang desiran angin namun mengandung racun mematikan. "Selama ini, kau hanya memainkan peranmu. Dan aku? Aku adalah sutradaranya. *Semua ini... adalah balas dendam yang sudah lama aku rencanakan.*" Kemudian, Xin Yi tersenyum misterius, membiarkan kebenaran terakhir melayang di udara yang basah oleh hujan: **“Pedang yang kau kira tertanam di hatiku, sebenarnya tertanam di hatimu… dan itu akan segera terungkap mengapa…”**
You Might Also Like: Drama Abiss Ia Menyebutku Dalam Podcast

Share on Facebook