Hujan menggigil membasahi Kota Tua, sama dinginnya dengan tatapan Lin Mei padanya. Xiao Wei, berdiri di bawah gerbang yang lapuk, tampak seperti bayangan yang patah di antara remang cahaya lentera yang nyaris padam. Dulu, lentera itu menyala terang, menerangi senyum Xiao Wei yang selalu membuatnya luluh. Dulu, hujan adalah saksi bisu janji-janji abadi yang kini hanya menjadi duri dalam hati. “Lin Mei,” bisiknya, suaranya serak tertelan deru hujan. “Setelah sekian lama…” Lin Mei mengangkat dagu. Mata elangnya menatap Xiao Wei tanpa ampun. “Setelah sekian lama, kau masih berani menampakkan diri di hadapanku?” Lima tahun. Lima tahun sejak Xiao Wei memilih harta dan tahta, meninggalkan Lin Mei terkapar dengan hati yang hancur berkeping-keping. Lima tahun sejak LOGIKA memerintah otaknya, menolak segala bentuk perasaan dan kerinduan yang diam-diam menggerogoti jiwanya. Hatinya, oh, hatinya, *terus menerus* berteriak merindukannya. “Aku… aku minta maaf,” ucap Xiao Wei, meremas tangannya. Setitik air mata menyatu dengan butiran hujan di pipinya. “Aku tahu kata-kata tidak akan cukup, tapi…” Lin Mei tertawa sinis. Tawa yang kering, tanpa kehangatan. “Maaf? Kau pikir maaf bisa mengembalikan kehormatanku? Mengembalikan kepercayaan yang kau hancurkan menjadi abu?” Bayangan Xiao Wei semakin memudar di bawah cahaya lentera yang redup. Seolah jiwanya perlahan terkikis. “Aku… aku melakukannya demi kebaikanmu,” lirihnya. Kata-kata itu bagaikan pisau yang menghujam jantung Lin Mei. Demi kebaikannya? Alasan klise yang selalu digunakan para pengkhianat. “Demi kebaikanku? Kau meninggalkanku di altar pernikahan, mempermalukanku di depan seluruh kota, dan kau sebut itu demi kebaikanku?” Lin Mei mendekat, tatapannya menusuk. “Kau pikir aku bodoh, Xiao Wei?” Xiao Wei menggeleng lemah. “Tidak, Lin Mei. Kau selalu menjadi wanita terpintar yang kukenal. Aku hanya… aku terpaksa. Ayahku…” “Ayahmu?” Lin Mei menyela dengan nada mengejek. “Jangan salahkan ayahmu atas kelemahanmu sendiri. Kau memilih kekuatan daripada cinta. Kau memilih uang daripada diriku.” Hening. Hanya suara hujan yang semakin menderu. Lin Mei membalikkan badan, berjalan menjauh. Bayangannya memanjang di bawah cahaya lentera yang berkedip-kedip. “Pergilah, Xiao Wei. Aku tidak ingin melihatmu lagi.” Langkahnya terhenti di ambang pintu. Tanpa menoleh, dia berbisik, “Kau pikir aku hanya menderita selama ini? Kau SALAH BESAR.” Xiao Wei tercenung di bawah hujan. Bingung. Lin Mei melanjutkan langkahnya, menghilang di balik kegelapan. Senyum misterius terukir di bibirnya. Lima tahun ini, dia telah merencanakan segalanya. Setiap langkahnya, setiap keputusannya, diarahkan untuk satu tujuan: MEMBALAS DENDAM. Dan sekarang, semua bidak sudah berada di tempatnya. *“Tahukah kau, Xiao Wei… bahwa ayahmu tidak meninggal karena sakit, melainkan karena…”*
You Might Also Like: Drama Baru Bayangan Yang Menatapku Dari

Share on Facebook