## Tangisan yang Tak Lagi Manusiawi Bulan sabit menggantung bagai kuku iblis di langit malam Kekaisaran Zhao. Di bawahnya, berdiri dua sosok. Li Wei, dengan jubah sutra hitam yang menari ditiup angin, dan Lin Xi, wajahnya pucat diterangi cahaya bulan. Mereka tumbuh bersama, seperti akar dan batang pohon purba yang menjulang tinggi. Li Wei, sang pangeran mahkota yang dingin dan berwibawa, dan Lin Xi, panglima perang yang setia, *teman* yang tak pernah mengkhianatinya. Atau, begitulah yang tampak. "Lin Xi," suara Li Wei bagai desisan ular, "Kau tahu, bukan? Tentang *dia*." Lin Xi meneguk ludah. Rahasia itu, rahasia yang disimpan rapat dalam peti mati ingatan, akhirnya terkuak. "Yang Mulia, saya..." "Cukup!" potong Li Wei, matanya menyala bagai bara api. "Jangan berbohong. Kau tahu bahwa darah yang mengalir di nadiku bukanlah darah naga yang murni. Kau tahu siapa ayahku yang sebenarnya." Angin bertiup semakin kencang, menerbangkan dedaunan kering bagai bisikan hantu. Lin Xi menatap Li Wei, ekspresinya sulit dibaca. Di matanya, terpancar kesetiaan, tapi di baliknya, tersimpan rahasia yang lebih gelap dari malam itu sendiri. "Yang Mulia, saya hanya hamba setia Anda. Saya tidak tahu apa yang Anda bicarakan." "BOHONG!" Li Wei meraung. "Kau berbohong padaku selama ini! Ayahku adalah seorang petani rendahan, bukan Kaisar Agung! Dan ibuku... ibuku hanyalah selir rendahan yang memanfaatkanku untuk naik takhta!" Setiap kata yang diucapkan Li Wei adalah cambuk yang menyayat hati Lin Xi. Mereka tumbuh bersama, berlatih pedang di bawah pohon sakura yang sama, berbagi mimpi tentang kekaisaran yang makmur. Tapi mimpi itu telah berubah menjadi mimpi buruk. "Saya bersumpah, Yang Mulia..." "Cukup dengan sumpah palsumu!" Li Wei menarik pedangnya. Kilau perak di bawah rembulan tampak menakutkan. "Akulah yang harus menanggung beban kebohongan ini! Akulah yang harus berpura-pura menjadi naga ketika aku hanyalah ular kecil!" Lin Xi akhirnya mengangkat pedangnya. Tidak ada pilihan lain. Dia telah menjaga rahasia itu selama bertahun-tahun, bukan untuk melindungi Li Wei, tapi untuk melindunginya dari kebenaran yang akan menghancurkannya. "Maafkan saya, Yang Mulia," bisik Lin Xi, suaranya nyaris tak terdengar. "Ini adalah satu-satunya cara." Pertarungan pun dimulai. Bukan lagi pertempuran antara pangeran dan panglima perang, tapi pertempuran antara dua jiwa yang terluka, dua hati yang terkhianati. Setiap tebasan pedang adalah tangisan yang tak terucapkan, setiap desahan napas adalah ratapan penyesalan. "Kau tahu, Lin Xi," kata Li Wei di tengah pertarungan, napasnya tersengal-sengal, "Aku selalu menganggapmu saudaraku. Tapi ternyata, kau adalah mata-mata yang dikirim ibuku." Mata Lin Xi membulat. Pengungkapan itu bagai petir yang menyambar di siang bolong. *Ibunya?* "Ibuku... menyuruhmu menjagaku, bukan untuk melindungiku, tapi untuk memastikan aku tetap berada di jalurnya, agar dia bisa mengendalikan takhta!" Li Wei tertawa getir. "Dan kau, dengan senang hati, melayaninya!" "Itu tidak benar!" Lin Xi membantah, tapi terlambat. Keraguan telah merayap masuk ke dalam hatinya. Li Wei memanfaatkan keraguan itu. Dengan satu gerakan cepat, dia menusukkan pedangnya ke jantung Lin Xi. Lin Xi terhuyung mundur, darah mengalir deras dari lukanya. Dia menatap Li Wei, bukan dengan kebencian, tapi dengan kesedihan yang mendalam. "Saya... menyesal, Yang Mulia," bisik Lin Xi, darah menetes dari bibirnya. "Saya melakukan apa yang harus saya lakukan. Demi... Kekaisaran..." "KEKASIARAN?!" Li Wei menendang tubuh Lin Xi yang tergeletak di tanah. "Kekaisaran apa yang kau bicarakan? Semuanya adalah kebohongan! Kebohongan!" Li Wei berjongkok di samping tubuh Lin Xi, air mata mengalir di pipinya. "Mengapa? Mengapa kau melakukan ini padaku?" Lin Xi tersenyum tipis. "Karena... rahasiamu... aman... bersamaku..." Lin Xi menghembuskan napas terakhirnya. Li Wei meraung, amarah dan kesedihan bercampur menjadi satu. Dia berdiri, mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, dan berteriak ke arah langit. "Aku... aku akan membalas dendam! Aku akan membuat semua orang membayar!" Namun, saat matanya menatap ke arah bulan, dia melihat bayangannya sendiri. Bayangan seorang pangeran yang dikhianati, seorang anak yang ditinggalkan, seorang manusia yang kehilangan segalanya. Dan di dalam bayangan itu, dia melihat kebenaran. Lin Xi tidak pernah mengkhianatinya. Lin Xi hanya berusaha melindunginya dari kenyataan bahwa... ibunya sendiri yang menginginkan Li Wei mati sejak awal, karena dia adalah bukti kelemahan dan noda dalam garis keturunannya. Lin Xi telah mengambil sumpah untuk melindungi Li Wei dengan nyawanya, dan dia telah melakukannya. Li Wei tertawa terbahak-bahak, tawa yang dipenuhi kepedihan dan kegilaan. Dia telah membunuh orang yang paling mencintainya. Dia telah membunuh satu-satunya *teman* yang dimilikinya. Dia telah membunuh dirinya sendiri. Li Wei menjatuhkan pedangnya. Dia tahu apa yang harus dia lakukan. Dia harus memastikan bahwa kekaisaran yang dibangun di atas kebohongan dan pengkhianatan ini akan hancur berkeping-keping. Dia akan menjadi monster yang selalu ditakutkan oleh ibunya. Dia akan menjadi pembunuh. Dia akan menjadi... **kaisar**. "Aku... sudah tidak bisa membedakan antara kebaikan dan keburukan, aku hanya... inginkan... dia... di sini..."
You Might Also Like: Dracin Seru Cinta Yang Menghapus Darah

Share on Facebook