Baiklah, inilah cerita pendek bergaya dracin yang Anda inginkan: **Kau Tersenyum di Pesta Pernikahanmu, Sementara Aku Belajar Cara Melupakan** Senandung *guqin* malam itu merambat melalui tirai sutra, menusuk jantungku seperti jarum perak. Di luar sana, lampion-lampion merah berpendar, menerangi wajah-wajah bahagia yang menari di bawah langit bertabur bintang. Di dalam kamar ini, hanya ada aku dan bayanganku, menari dengan pilu diiringi lagu yang sama. Kau *tersenyum* di pesta pernikahanmu, mengenakan gaun merah yang memesona, seperti *phoenix* yang bangkit dari abu. Senyum itu, senyum yang dulu hanya untukku, kini kau bagi dengan pria lain. Pria yang, jujur saja, tidak ada apa-apanya dibanding aku. Aku belajar cara melupakan. Sebuah pelajaran pahit yang kurangkai setiap hari. Aku menelan setiap kenangan, membiarkannya berkarat di dasar hatiku. Aku diam. Bukan karena lemah, tapi karena *RAHASIA* yang kupendam. Rahasia yang akan menghancurkan segalanya jika terungkap. Dulu, kau dan aku berjanji akan saling melindungi. Melindungi mimpi, melindungi masa depan. Tapi kau memilih jalan lain. Jalan yang lebih berkilau, lebih aman, lebih *pasti*. Awalnya, aku pikir ini hanya salah paham. Kemudian, aku menemukan surat itu. Surat yang ditulis tangan, beraroma lavender, dan ditujukan padamu. Surat dari **WANITA** lain. Wanita yang mengandung anak suamimu. Sebuah misteri kecil mulai terjalin. Siapa wanita itu? Mengapa suamimu menyembunyikannya? Dan mengapa kau, *wanita yang selalu menjunjung tinggi kehormatan*, memilih untuk diam? Semakin aku mencari, semakin aku mengerti. Pernikahan ini, hanyalah topeng belaka. Topeng untuk menutupi kebusukan, ambisi, dan pengkhianatan yang tersembunyi di baliknya. Balas dendam? Aku tidak menginginkannya. Aku tidak ingin mengotori tanganku dengan lumpur. Biarlah takdir yang berbicara. Biarlah karma yang menari. Beberapa tahun kemudian, aku mendengar bisik-bisik tentang perusahaan suamimu yang bangkrut. Aku mendengar tentang hutang yang menggunung, tentang skandal yang menghancurkan reputasinya. Aku juga mendengar tentang... sakit yang kau derita. Sakit yang perlahan menggerogoti tubuhmu. Aku tidak tahu apakah ini karma. Aku tidak tahu apakah aku harus merasa puas. Yang aku tahu, aku *melihatmu* di sebuah kafe kecil, wajahmu pucat, matamu sayu. Kau menatapku dengan pandangan yang sulit diartikan. Penyesalan? Kerinduan? Atau hanya... kekosongan? Kau berkata, "Aku tahu... kau yang melakukan ini, kan?" Aku hanya tersenyum. Senyum yang tidak sampai ke mata. "Aku tidak melakukan apa-apa. Aku hanya... menyimpan rahasia." Rahasia tentang siapa *ayah kandung* anak yang kau kandung dulu. Dan saat itu, aku tahu... takdir telah berbalik arah. Tapi apakah ini indah? Entahlah. *Angin berbisik di antara pepohonan sakura, membawa aroma pahit kenangan yang tak pernah benar-benar hilang.*
You Might Also Like: Tafsir Menangkap Bekantan Dalam Tafsir

Share on Facebook