## Janji yang Menjadi Doa Terlarang Hembusan angin membawa aroma *mei hua*, persis seperti seratus tahun lalu. Di kedai teh pinggir danau, Lian Hua merasakan getaran aneh, seolah jiwanya mengenali sesuatu yang telah lama hilang. Tatapannya terpaku pada seorang pria yang baru saja memasuki kedai itu. Xu Mingyu. Mata itu... mata yang sama yang menghantuinya dalam mimpi-mimpi panjang tak berkesudahan. Ia, Lian Hua, adalah seorang pelukis muda yang tengah naik daun. Mingyu, seorang pengusaha muda yang dingin dan penuh perhitungan. Keduanya bagai *dua kutub magnet* yang tak mungkin bersatu, namun takdir seolah memaksa mereka bertemu. "Nona Lian Hua," sapa Mingyu dengan nada datar, namun Lian Hua menangkap secercah kelembutan di sana. "Lukisanmu... mengingatkanku pada sesuatu yang ***sangat*** lama." *** Seratus tahun lalu, Lian Hua adalah seorang putri mahkota dari dinasti yang telah lama runtuh. Mingyu adalah panglima perangnya, seorang pahlawan yang mengabdi dengan setia. Cinta mereka tumbuh di tengah intrik istana dan peperangan. Sebuah cinta yang *TERLARANG*. Namun, cinta itu berakhir dengan pengkhianatan. Mingyu, di bawah tekanan musuh, terpaksa mengkhianati kerajaan dan Lian Hua. Sebelum mengakhiri hidupnya, Lian Hua mengutuk Mingyu, sebuah janji berdarah: *“Jiwa kita akan terus bertemu, namun setiap pertemuan hanya akan membawa penderitaan. Kaulah yang akan merasakan sakitnya terpisah selama-lamanya.”* Doa terlarang itu terpatri dalam jiwa mereka, sebuah karma yang terus menghantui reinkarnasi mereka. *** Lian Hua berusaha menjauhi Mingyu. Setiap sentuhannya, setiap tatapannya, membangkitkan kenangan menyakitkan. Ia mendengar bisikan-bisikan dari masa lalu, melihat bayangan dirinya dan Mingyu di medan perang. Namun, takdir memang tak bisa dilawan. Keduanya terikat dalam proyek seni besar. Mereka bekerja bersama, bertukar ide, dan perlahan, kenangan-kenangan itu mulai terungkap, seperti lapisan cat yang mengelupas, memperlihatkan lukisan yang tersembunyi di baliknya. Lian Hua menemukan gulungan lukisan kuno di gudang penyimpanan. Lukisan itu menggambarkan dirinya dan Mingyu seratus tahun lalu, di tengah *kebun mei hua* yang sama, saat cinta mereka masih suci dan tanpa dosa. Di balik lukisan itu tertulis surat dari Mingyu: _"Lian Hua, aku terpaksa mengkhianatimu. Aku tahu ini tak termaafkan. Tapi aku bersumpah, di kehidupan selanjutnya, aku akan menebus dosaku. Biarkan jiwaku menjadi pelindungmu, meski kau membenciku."_ Air mata Lian Hua mengalir deras. Kebenciannya perlahan luntur, digantikan oleh kesedihan mendalam. Ia memahami pengorbanan Mingyu. Ia mengerti bahwa ia juga adalah korban dari keadaan. *** Tibalah malam pembukaan pameran lukisan mereka. Mingyu berdiri di samping Lian Hua, memandangnya dengan tatapan penuh harap. "Lian Hua," bisiknya, "apakah kau... mengingat semuanya?" Lian Hua mengangguk, lalu tersenyum. Senyum yang *menusuk* lebih dalam daripada amarah. "Aku mengingat semuanya, Mingyu. Termasuk janji yang menjadi doa terlarang itu." Ia mengangkat gelas sampanye. "Untuk penebusan dosa... dan untuk pengampunan." Ia menyesap sampanye itu, lalu berbalik, meninggalkan Mingyu berdiri terpaku di tengah keramaian. Lian Hua membalas dendam bukan dengan kemarahan, melainkan dengan keheningan. Ia membiarkan Mingyu hidup dengan penyesalannya, dengan beban karma yang selama ini menghantuinya. Ia memilih *MENGAMPUNI*. *** Saat mobil membawanya menjauh, Lian Hua menatap ke langit. Di kejauhan, ia melihat *mei hua* bermekaran di tengah musim dingin. Bisikan angin seperti membawakan pesan dari masa lalu: *“Jangan lupakan janjimu…”*
You Might Also Like: Skincare Pencerah Wajah Tanpa Iritasi

Share on Facebook