Baik, ini dia kisah dracin pendek yang kamu minta: **Kau Mencintaiku dengan Mata Tertutup, dan Aku Percaya Itu Cinta Sejati** Lorong istana itu sunyi, hanya diterangi obor-obor yang menari lemah. Angin dingin berdesir, membawa serta aroma dupa cendana yang kental, bercampur dengan bau anyir yang samar. Selama sepuluh tahun, lorong ini menjadi saksi bisu hilangnya Pangeran Kedua, Li Wei. Semua orang percaya ia tewas dalam pertempuran di perbatasan utara, jasadnya tak pernah ditemukan, hanya pedang patah yang bersimbah darah. Namun, malam ini, bayangan tinggi menjulang di ujung lorong. Sosok itu berjalan perlahan, jubah hitamnya menyapu lantai marmer. Wajahnya tertutup topeng perak, hanya matanya yang terlihat – **dingin** dan **tajam**, menatap lurus ke arah Putri Mei Hua yang berdiri di tengah lorong. "Kau kembali," bisik Mei Hua, suaranya bergetar. Gaun putihnya berkibar pelan, kontras dengan kegelapan di sekitarnya. Sepuluh tahun berlalu, namun wajahnya masih cantik, meski dibayangi kesedihan abadi. Sosok itu berhenti tepat di hadapan Mei Hua. "Apakah kau merindukanku, *A-Mei*?" Suaranya dalam, beraksen familiar namun asing. Mei Hua menggeleng pelan. "Li Wei sudah meninggal. Siapa kau?" Sosok itu tertawa pelan, suara yang membuat bulu kuduk Mei Hua meremang. "Kau begitu yakin, sayangku? Padahal, kau mencintaiku dengan mata tertutup. Kau percaya semua yang kukatakan, bahkan tanpa bukti." Sosok itu mengangkat tangannya, perlahan menyentuh pipi Mei Hua. "Kau ingat malam itu, di pegunungan Baiyun? Kabut tebal menyelimuti segalanya, menyembunyikan **rahasia** yang kita berdua simpan." Mei Hua terdiam. Pegunungan Baiyun. Malam itu... malam di mana Li Wei membunuh pamannya sendiri, Pangeran Pertama, untuk merebut tahta. Mei Hua adalah satu-satunya saksi. "Kau membantuku menyembunyikan mayatnya, Mei Hua. Kau bersumpah akan menjaga rahasia ini selamanya. Kenapa?" bisik sosok itu, suaranya seperti desiran angin yang membawa ancaman. "Karena aku mencintaimu," jawab Mei Hua, air mata menetes di pipinya. Sosok itu menurunkan topengnya. Wajah Li Wei terpampang jelas, namun ada yang berbeda. Tidak ada kehangatan di sana, hanya **kekosongan**. "Cinta? Kau pikir aku butuh cintamu? Aku hanya butuh *kesetiaanmu*. Kesetiaan untuk membantuku mendapatkan apa yang *seharusnya* menjadi milikku." Li Wei meraih tangan Mei Hua, menariknya mendekat. "Tahukah kau, Mei Hua? Pedang patah itu... aku sengaja meninggalkannya di sana. Untuk membuat semua orang percaya aku mati. Aku bersembunyi, belajar, merencanakan... dan sekarang, aku kembali untuk mengambil tahta yang *seharusnya* menjadi milikku." Mei Hua menatap Li Wei, matanya dipenuhi kengerian. "Jadi... selama ini... kau memanfaatkanku?" Li Wei tersenyum dingin. "Kau terlalu naif, Mei Hua. Kau pikir aku benar-benar mencintaimu? Kau hanya pion dalam permainanku. Dan sekarang... saatnya untuk memainkan langkah terakhir." Ia mengangkat tangannya, memberi isyarat. Dua orang muncul dari balik pilar, menggiring seorang pria tua yang tampak ketakutan. Kaisar. "Ayahanda... sungguh senang bertemu kembali," kata Li Wei, suaranya penuh ejekan. Kaisar menatap Li Wei dengan tatapan nanar. "Kau... bagaimana mungkin...?" Li Wei tertawa. "Aku? Aku abadi, Ayahanda. Abadi dalam ingatanmu, abadi dalam ketakutanmu. Dan sekarang, aku akan menjadi abadi sebagai Kaisar." Li Wei berbalik, menatap Mei Hua. "Kau lihat, Mei Hua? Aku selalu memegang kendali. *AKU* adalah korban, dan *AKU* yang akan membalas dendam." Malam itu, istana berguncang. Tahta berganti pemilik. Dan Putri Mei Hua, yang mencintai dengan mata tertutup, akhirnya menyadari: *cintanya adalah belenggu yang mengikatnya pada kegelapan abadi, dan dia adalah arsitek kejatuhannya sendiri.*
You Might Also Like: 127 Consolidated B 24 Liberator

Share on Facebook