Hujan menggigil membasahi atap Istana Giok. Ratu Lianhua duduk di singgasananya, gaun kebesarannya menjuntai bagai sungai merah darah yang tergenang. Janji itu terucap lantang di hadapan rakyatnya: kemakmuran, kedamaian, keadilan. Tapi di balik mata setajam elang itu, hanya satu nama yang bergema: **Zhang Wei**. Dulu, Zhang Wei adalah mataharinya. Senyumnya adalah musim semi, sentuhannya adalah kehangatan mentari pagi. Mereka berjanji sehidup semati di bawah pohon Mei yang berbunga. Tapi kemudian, bayangan kekuasaan merayap masuk, mematahkan sumpah itu seperti ranting kering di musim gugur. Zhang Wei dituduh berkhianat, dihukum mati di hadapan mata Lianhua yang menyaksikan, terbungkam oleh mahkota yang dijanjikan. Setiap tetes hujan adalah air mata yang tak pernah ia tumpahkan. Setiap kilat adalah amarah yang ia pendam. Dia memerintah dengan tangan besi, membangun kerajaan yang makmur, tapi hatinya tetap terkunci di masa lalu. Cahaya lentera di kamarnya nyaris padam, merefleksikan jiwanya yang sekarat. Ia ingat malam terakhir mereka. Zhang Wei, berlutut di hadapannya, dengan mata yang dipenuhi luka dan kepedihan. "Lianhua, *aku tidak bersalah*. Percayalah padaku." Ia tak bisa, tidak saat itu. Kekuasaan, warisan, masa depan dinasti, semuanya menuntut pengorbanan. Dan Zhang Wei, adalah korbannya. Bertahun-tahun berlalu. Ia membangun kerajaan di atas kuburan cintanya. Ia mengabdikan diri pada rakyatnya, tapi hatinya kosong. Setiap malam, ia memimpikan wajah Zhang Wei, wajah yang menghantui sekaligus mencintainya. Suatu hari, seorang cendekiawan istana memberanikan diri berbicara. "Yang Mulia Ratu, tentang pemberontakan di perbatasan utara… kami menemukan bukti baru. Bukti yang… mengejutkan." Lianhua mendengarkan dengan seksama, jantungnya berdebar kencang seperti burung yang terperangkap. Sang cendekiawan menyerahkan gulungan usang. Di dalamnya, tertulis rencana pengkhianatan, ditandatangani… bukan oleh Zhang Wei, tapi oleh *Paman Kaisar*. Dunia Lianhua runtuh. Semua yang ia yakini selama ini adalah kebohongan. Zhang Wei tidak bersalah. Ia telah membunuh cinta sejatinya, demi kekuasaan yang dibangun di atas dusta. Tapi, ia tidak menunjukkan apa pun. Ia tetaplah Ratu Lianhua yang dingin dan kalkulatif. Ia memerintahkan penangkapan Paman Kaisar. Ia memerintahkan penyelidikan menyeluruh. Ia **tahu** bahwa kebenaran akan terungkap, tapi ia juga **tahu** bahwa kebenaran ini adalah bom waktu. Malam itu, Lianhua berdiri di balkon istana, membiarkan hujan membasahi wajahnya. Ia memejamkan mata, membayangkan Zhang Wei berdiri di sampingnya. Ia bergumam, nyaris tak terdengar, "Maafkan aku, Wei. Maafkan aku." Di bawah bulan yang tertutup awan, ia tersenyum pahit. Semua ini, semua penderitaan ini, semua penyesalan ini… telah menjadi bahan bakar. Rencana balas dendamnya telah dimulai sejak hari eksekusi Zhang Wei, sebuah rencana yang terukir dalam setiap keputusan, setiap kebijakan, setiap senyuman yang dipaksakan. Ia telah membangun kerajaan yang kuat. Ia telah memenangkan hati rakyatnya. Ia telah membuktikan dirinya sebagai Ratu yang cakap. Tapi semua itu hanyalah topeng. Di balik topeng itu, bersembunyi seorang wanita yang haus akan keadilan. Seorang wanita yang akan membakar seluruh kerajaan, jika itu berarti membalaskan dendam Zhang Wei. Ia membuka matanya, menatap langit kelabu. "Semua ini… Wei… semua ini adalah untukmu." Dan kemudian, sebuah bisikan sampai ke telinganya dari seorang pelayan yang ketakutan: "Yang Mulia, tentang peti mati mendiang mendiang Perdana Menteri Zhang Wei… kami menemukannya *kosong*."
You Might Also Like: Dracin Populer Tangisan Yang Terlupakan

Share on Facebook