Baiklah, inilah kisah pendek bergaya dracin berjudul 'Air Mata yang Menjadi Racun Sunyi': **Air Mata yang Menjadi Racun Sunyi** Hujan gerimis menari di balik jendela kaca *Paviliun Bunga Persik*. Di dalam, LING MEI, wanita dengan aura elegan yang tak tertandingi, menyesap teh hangat. Senyumnya mengembang tipis, ilusi kebahagiaan yang nyaris sempurna. Namun, di balik senyum itu, tersembunyi samudra kepedihan yang tak bertepi. Lima tahun lalu, di bawah pohon sakura yang bermekaran, LI WEI berlutut dan mengikrarkan cinta abadi. Janji itu, bagaikan melodi yang indah, terukir dalam hatinya. *Namun janji itu kini berubah menjadi belati, menusuk-nusuk dengan kejam setiap kali ia bernapas*. Li Wei, cinta sejatinya, kekasih hatinya, telah menikahi Nyonya ZHANG, putri dari keluarga Zhang yang berpengaruh. Pernikahan yang diatur, pernikahan yang menyelamatkan kerajaan bisnis keluarga Li. Ling Mei tahu. Ia selalu tahu. Ia memahami pengorbanan itu. Ia mencoba menerima, meski hatinya hancur berkeping-keping. Ia adalah wanita yang kuat, *wanita yang memilih diam daripada berteriak kesakitan*. Dulu, pelukan Li Wei terasa hangat, menenangkan. Sekarang, bayangan pelukan itu terasa *beracun*, meninggalkan jejak dingin yang membekukan jiwanya. Setiap tatapan Li Wei padanya, kini hanya berisi rasa bersalah dan penyesalan. Penyesalan yang sama sekali tak bisa menghibur lukanya. Ling Mei tidak menangis. Air matanya, ia ubah menjadi kekuatan. Ia memfokuskan diri pada bisnis keluarganya, membangun kerajaan bisnis yang lebih gemilang dari milik Li Wei. Ia belajar berdiplomasi, bernegosiasi, dan memanipulasi tanpa setetes pun keringat. Suatu malam, di pesta ulang tahun Nyonya Zhang, Ling Mei muncul bagaikan dewi. Gaun merah menyala, senyum memukau, ia adalah pusat perhatian. Li Wei menatapnya dengan tatapan *memuja* sekaligus *putus asa*. Ling Mei mendekati Li Wei, menyentuh pipinya dengan lembut. "Li Wei," bisiknya, suaranya merdu namun dingin. "Apakah kau bahagia?" Li Wei hanya bisa menunduk, air mata (yang entah sejak kapan telah menggenang di pelupuk matanya) jatuh membasahi lantai. Jawaban yang tidak terucap, namun jelas terbaca. Beberapa bulan kemudian, kerajaan bisnis keluarga Li mengalami kemunduran yang dahsyat. Terlilit hutang, kehilangan investor, dan ditinggalkan oleh sekutu. Nyonya Zhang, tak tahan dengan tekanan, pergi meninggalkan Li Wei. Li Wei, sendirian dan hancur, datang menemui Ling Mei. Ia memohon ampun, memohon kesempatan kedua. Ling Mei menatapnya dengan tatapan kosong. "Dulu, kau memilih kepentingan keluarga di atas cinta. Sekarang, kau menuai apa yang kau tabur." Ia memberikan cek dengan jumlah yang cukup untuk menyelamatkan keluarga Li. "Ambillah. Ini bukan karena cinta, tapi karena aku *membenci* melihatmu menderita." Li Wei menerima cek itu dengan tangan gemetar. Ia tahu, ia telah kehilangan segalanya. Kehilangan cinta Ling Mei adalah hukuman yang *lebih pedih* dari kematian. Ling Mei berbalik, meninggalkan Li Wei yang terpaku dalam penyesalan abadi. Ia berjalan menuju Paviliun Bunga Persik, meninggalkan aroma melati yang memabukkan di belakangnya. Cinta dan dendam… lahir dari tempat yang sama, dan kadang sulit membedakannya, bukan?
You Might Also Like: Cyclobenzaprine Pregnancy Safety Risks

Share on Facebook