Baiklah, inilah kisah Dracin fantasi "Ia Membiarkan Aku Di Draft, Karena Tak Siap Kehilangan": **Ia Membiarkan Aku Di Draft, Karena Tak Siap Kehilangan** Lentera-lentera terapung di permukaan Danau Rembulan, memantulkan cahaya redup ke langit kelam. Di dunia roh, setiap lentera adalah _bisikan_ dari hati yang telah pergi, dan malam ini, bisikan mereka terdengar lebih nyaring. Aku, Lin Yue, berdiri di tepi danau, merasakan angin dingin menyentuh pipiku. Dulu, aku adalah seorang novelis di dunia manusia, terjebak dalam *DEADLINE* dan _drama_ percintaan yang tak kunjung selesai. Kini, aku adalah roh yang tersesat, roh yang seharusnya sudah tidak ada. Dulu, aku mati karena kecelakaan mobil yang aneh. Mobilku tiba-tiba saja menabrak tebing, seolah ada kekuatan tak terlihat yang mendorongnya. Sekarang, di dunia roh ini, aku menyadari bahwa kematianku bukanlah akhir, melainkan sebuah _AWAL_. “Lin Yue…” Suara itu datang dari bayanganku sendiri. Ya, di dunia ini, bayangan bisa berbicara. Bayangan ini, bernama Ying, adalah pemanduku, penasihatku, dan satu-satunya yang tahu rahasia tentang diriku. “Bulan mengingat namamu, Lin Yue. Ia tahu takdirmu yang sebenarnya,” bisik Ying, suaranya berdesir seperti sutra. Aku tidak mengerti. Takdir apa? Aku hanya ingin kembali. Aku ingin menulis lagi, merasakan hangatnya kopi di pagi hari, dan melihat senyumnya… Senyum Bai Zhi. Bai Zhi. Temanku, editor naskahku, dan orang yang… kurasa aku cintai. Tapi, di sini, di dunia roh, cintaku padanya terasa seperti mimpi yang kabur. Aku ingat kata-katanya sebelum aku pergi: “Aku… aku belum siap kehilanganmu, Lin Yue. Maafkan aku…” Apakah itu sebabnya ia tidak pernah membalas perasaanku? Apakah itu sebabnya ia membiarkanku *TERJEBAK* di *DRAFT*, tak pernah benar-benar menjadi nyata? Waktu berlalu di dunia roh, tidak seperti di dunia manusia. Di sini, aku belajar tentang sihir, tentang kekuatan roh, dan tentang kenyataan bahwa aku bukan sekadar roh biasa. Aku adalah keturunan *Penulis Takdir*, seseorang yang mampu mengubah jalannya sejarah. Rahasia besar itu terungkap perlahan, seperti lukisan yang disingkap lapis demi lapis. Aku mati di dunia manusia bukan karena kecelakaan. Aku dibunuh. Dan pembunuhnya… Adalah Bai Zhi! Namun, bukan Bai Zhi yang kukenal. Di dunia roh, aku melihat masa lalunya. Ia adalah keturunan dari *Pemutar Takdir*, kekuatan jahat yang ingin mengendalikan semua dunia. Ia membutuhkan darahku, darah Penulis Takdir, untuk membuka gerbang menuju dimensi lain. Tapi… mengapa ia tampak begitu sedih ketika aku mati? Mengapa ia tidak pernah membantuku bangkit dari kematian? Ying menjelaskan: “Ia terikat dengan takdirnya, Lin Yue. Ia mencintaimu, sungguh. Tapi ia juga terikat oleh tanggung jawabnya. Ia ingin mengendalikanmu, menggunakanmu, tapi hatinya menolak.” Aku berkonfrontasi dengannya di dunia roh. Ia tampak rapuh, dilanda penyesalan. “Aku… aku ingin bersamamu, Lin Yue. Tapi aku tidak bisa. Kekuatan ini… menghancurkanku.” Saat itu, aku mengerti. Bai Zhi tidak memanipulasi takdirku. Ia *TERJEBAK* di dalamnya, sama sepertiku. Ia ingin melindungiku dengan cara yang paling menyakitkan, dengan cara membiarkanku mati. Pertarungan terakhir terjadi di gerbang menuju dimensi lain. Aku, dengan kekuatan Penulis Takdir, dan Bai Zhi, dengan kekuatan Pemutar Takdir, bertarung bukan untuk mengendalikan dunia, tapi untuk membebaskan diri dari takdir. Pada akhirnya, kami berdua terluka parah. Gerbang itu runtuh, dan kedua dunia, dunia manusia dan dunia roh, terancam hancur. Satu-satunya cara untuk menyelamatkan keduanya adalah… mengorbankan diri. Bai Zhi tersenyum padaku, air mata mengalir di pipinya. “Maafkan aku, Lin Yue. Aku mencintaimu lebih dari apa pun…” Ia mendorongku menjauh dari gerbang yang runtuh, dan menarik kekuatan Pemutar Takdir ke dalam dirinya sendiri. Ledakan dahsyat mengguncang seluruh dunia roh. Aku selamat, tapi Bai Zhi… Ia lenyap. Aku kembali ke dunia manusia, membawa serta ingatan tentang dunia roh. Aku kembali menjadi novelis, menulis tentang cinta, kehilangan, dan takdir. Aku menulis tentang Bai Zhi, tentang pengorbanannya, tentang cintanya yang tak terbalas. Aku tidak tahu apakah ia masih ada di suatu tempat, di dunia lain. Yang kutahu, ia akan selalu ada di dalam hatiku, di dalam setiap kata yang kutulis. Dan di setiap malam bulan purnama, aku berbisik ke langit: *Terbanglah, Jiwa Rembulan, bawalah namaku padanya, agar ia tahu aku menunggunya.*
You Might Also Like: 0895403292432 Agen Skincare Passive

Share on Facebook