Baiklah, inilah kisah puitis bergaya dracin klasik yang kamu inginkan, dalam bahasa Indonesia yang indah dan metaforis: **"Aku Mencintaimu Sampai Takdir Pun Takut Menyentuh Kita"** Di antara kabut pagi yang menyelimuti Danau Bulan Sabit, *hadirlah* dia. Bukan sebagai manusia, melainkan bayangan yang menari di atas permukaan air, senyumnya selembut kapas yang tertiup angin. Aku melihatnya, bukan dengan mata, tapi dengan ***jiwa*** yang telah lama merindu. Aku, seorang pelukis mimpi, terperangkap dalam kanvas yang aku ciptakan sendiri. Di sanalah, di dunia cat air dan ingatan yang memudar, aku bertemu dengannya. *Xiao Mei*, namanya. Suaranya seperti seruling bambu yang dimainkan dewa, setiap nada menyentuh relung hatiku yang paling tersembunyi. Setiap hari, kami bertemu di bawah pohon sakura yang tak pernah layu, di tepi sungai yang airnya berkilauan seperti permata. Kami berbagi rahasia yang hanya dipahami oleh rembulan dan bintang. Cinta kami tumbuh, seindah bunga teratai yang mekar di tengah malam, ***SEKUAT*** akar pohon purba yang menembus bumi. Namun, cinta kami *terlarang*. Takdir, seperti naga raksasa yang murka, mengintai di balik tirai waktu. Aku merasakan hawa dinginnya, bisikan ancamannya di setiap hembusan angin. Xiao Mei menyadarinya. Matanya, yang tadinya berbinar seperti bintang jatuh, mulai redup ditelan kesedihan. "Kita tidak boleh bersama," bisiknya suatu senja, air mata membasahi pipinya yang sehalus pualam. "Takdir akan menghancurkan kita... ***seperti debu***." Aku menggenggam tangannya. "Aku mencintaimu sampai takdir pun takut menyentuh kita, Xiao Mei. Kita akan melawan!" Kami berjanji untuk melarikan diri, menembus batas dimensi, mencari tempat di mana takdir tidak berkuasa. Kami berlari di tengah badai, berlayar di atas ombak yang mengamuk, melewati hutan yang gelap dan penuh misteri. Suatu malam, di puncak gunung yang diselimuti salju abadi, Xiao Mei berhenti. "Aku tidak bisa lebih jauh lagi," ucapnya lemah. Aku menatapnya dengan cemas. Tubuhnya mulai memudar, seperti lukisan yang terkena hujan. "Siapa kau sebenarnya?" tanyaku, suara bergetar. Dia tersenyum, senyum yang *memilukan*. "Aku adalah bagian dari mimpimu, pelukis. Aku adalah jiwa yang kau ciptakan untuk menemani kesepianmu. Aku adalah warna yang kau butuhkan untuk melukis keindahan." ***Pengungkapan itu menusuk jantungku seperti ribuan jarum***. Dia bukan nyata. Dia hanya ilusi, proyeksi dari kerinduanku yang tak terperi. Xiao Mei menghilang, menjadi kabut yang tertiup angin. Aku ditinggalkan sendirian di puncak gunung, dengan hati yang hancur berkeping-keping. Dulu, ada lukisan seorang wanita yang sangat mirip dengannya di loteng rumahku. Lukisan yang selalu membuatku merasa familiar, tetapi tak pernah bisa kuingat dari mana asalnya. Saat itu, aku mengerti. Aku melukisnya... *bertahun-tahun yang lalu, dalam kehidupan yang terlupa*. "Akankah kita bertemu lagi, di mimpi yang lain...?"
You Might Also Like: Absurd Tapi Seru Ia Tak Pernah Berjanji
Share on Facebook