**Bayangan yang Tak Mau Mati** Aroma dupa cendana membawaku kembali. Bukan ke kuil ini, melainkan ke taman bunga persik di musim semi. Senyum Mei Lin, begitu *lembut* dan *menipu*. Aku adalah Lian, putri mahkota Kerajaan Han. Di kehidupan ini, aku Qing, seorang pelukis jalanan yang miskin. Namun, setiap sentuhan kuas, setiap warna yang kutorehkan, membisikkan fragmen masa lalu. Dendam yang dulu kupendam, kini *membara* dalam wujud ingatan yang perlahan menguak. Di kehidupan dulu, aku mempercayai Mei Lin lebih dari diriku sendiri. Rahasia kerajaan, impianku menjadi *r*atu yang bijaksana, semuanya kuceritakan padanya. Namun, Mei Lin mengkhianatiku. Dia bersekongkol dengan Pangeran Zhao yang haus tahta, meracuniku dengan anggur beracun di malam *pesta* ulang tahunku. Ingatan ini datang bagai pecahan kaca yang menyakitkan. Wajah Pangeran Zhao, seringai kemenangan Mei Lin, aroma anggur pahit – semuanya terasa begitu nyata. Di pasar malam, aku melihatnya. Pria paruh baya dengan mata yang *sama* seperti Pangeran Zhao. Dia adalah reinkarnasinya. Sekarang, dia adalah pedagang kain sutra kaya raya, memiliki segalanya yang dulu kurindukan. Aku mendekatinya, berpura-pura tertarik pada kain sutra yang dijualnya. Senyumnya *menjijikkan*, mengingatkanku pada malam terkutuk itu. "Kain ini sangat indah," ujarku, menunjuk sehelai kain sutra berwarna *hitam* legam. "Namun, warnanya terlalu gelap. Cocok untuk pemakaman." Dia tertawa, tidak menyadari ironi dalam perkataanku. Disinilah balas dendamku dimulai. Bukan dengan racun atau pedang. Melainkan dengan kuas. Aku melukis wajahnya, wajah Pangeran Zhao yang dulu *kejam*, di gulungan sutra yang akan kubuat jadi layang-layang dan kubawa keliling kota. Aku mengungkapnya di depan umum. Skandal itu *menghancurkannya*. Bisnisnya hancur, reputasinya tercoreng. Dia kehilangan segalanya, hidupnya menjadi bayangan dari apa yang dulu dimilikinya. Suatu malam, aku melihatnya di tepi sungai, menatap bulan purnama. Dia tampak *hancur*, *sendirian*. Aku mendekatinya. "Apakah kau ingat bunga persik, Pangeran Zhao?" tanyaku, suaraku nyaris berbisik. Dia menoleh, matanya dipenuhi ketakutan dan *penyesalan*. "Lian…?" bisiknya. Aku tersenyum. Balas dendamku selesai. Bukan dengan kematian, melainkan dengan menjatuhkannya dari tahta khayalan yang dibangunnya. Aku berbalik dan pergi, meninggalkan dia di tepi sungai yang *dingin*. Dendam telah terbalaskan, tapi rasa sakitnya masih ada, dan aku tahu bahwa suatu saat nanti, *entah kapan*, Mei Lin akan merasakan balasanku pula. *Janji ini akan kutagih, walau harus menunggu seribu tahun lagi...*
You Might Also Like: 162 Unraveling Art History Best Images

Share on Facebook